Menikmati Masa Pensiun Tanpa Stres

Menikmati Masa Pensiun Tanpa Stres

 Jakarta, Swamedium.com – Menjadi tua itu pasti. Tetapi, menikmati masa tua yang tenteram dan bahagia, tidak semua orang bisa. Salah satu faktor untuk menunjang kehidupan yang tenang dan bahagia, tanpa stres di usia pensiun adalah punya tabungan yang cukup. Bayangkan bila pensiun tidak memiliki tabungan dan hanya berharap mendapatkan transfer dari anak-anak, tentu ini membuat perasaan kurang tenang. Benar, uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tetapi bisa menunjang kita untuk bahagia.

Agama Islam juga mengajarkan kita untuk menabung dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Persiapkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah bersabda:

إِغْتَنِمْ خَمْساًَ قًبْلَ خَمْسٍِ : حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

”Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yang lain) : Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu” [HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi].

Hadits ini memberikan nasihat yang berharga bagi umatnya. Banyak orang yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, sehingga hidupnya tanpa arah dan masa depannya suram. Salah satunya, masalah mengelola keuangannya. Saat berpunya atau berpenghasilan, dia boros sehingga lupa mempersiapkan kebutuhan finansial di hari tua.

Padahal, Islam melarang umatnya untuk hidup boros. Setelah sebagian penghasilan untuk zakat, sedekah dan konsumsi, seharusnya ada yang disisihkan untuk tabungan hari tua. Dengan penghasilan yang terbatas, selain menabung, kita juga perlu berinvestasi.

Jangan menunda investasi jika ingin hidupnya berkecukupan. Selain itu, kita juga harus bisa membedakan antara kebutuhan (need) dengan keinginan (want) agar penghasilan tidak hanya habis untuk keperluan konsumsi dan kemewahan. Banyak orang baru menyadari pentingnya berinvestasi saat usia sudah memasuki kepala 4 alias 40 tahun keatas. Sebagian orang merasa terlambat berinvestasi saat sudah berada di usia tersebut.

Di sisi lain, banyak yang tidak tepat merencanakan keuangannya karena tidak mengerti fungsi tabungan, asuransi atau investasi. Untuk itu, mari kita membahasnya.

Tabungan adalah produk keuangan yang dikeluarkan oleh perbankan. Sesuai dengan sifatnya sebagai tabungan atau menitipkan uang, tentu imbal hasil yang didapatkannya tidak seberapa. Saat ini, imbal hasil tabungan hanya dikisaran 1%. Tentu saja, jika menempatkan seluruh uangnya di tabungan bakal merugi karena nilai uangnya bakal tergerus oleh inflasi yang angkanya jauh lebih besar dari bunga bank.

Asuransi adalah produk keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi. Sifat produk ini adalah untuk proteksi atau perlindungan dari risiko, seperti sakit, sakit kritis, bencana alam hingga kematian. Daripada bila musibah tersebut terjadi, risiko kerugian yang bakal ditanggungnya sangat besar, kita bisa membeli produk asuransi untuk berjaga-jaga bila terjadi musibah.

Investasi adalah kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan atau mengembangkan kekayaan/aset.  Mengapa perlu berinvestasi? Jawabannya ada beberapa hal. Pertama, nilai kekayaan kita dari waktu ke waktu tergerus oleh inflasi, sementara biaya hidup terus meningkat.

Kedua, menginginkan peningkatan aset.

Ketiga, keinginan dan kebutuhan manusia beragam. Dengan investasi, impian-impian hidup kita diharapkan bisa terwujud.

Keempat, usia produktif manusia terbatas. Menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mencari penghasilan, kita harus berupaya berinvestasi untuk tujuan menyiapkan dana pensiun dan memenuhi impian hidup dengan lebih cepat.

Ragam Investasi

Produk investasi itu beragam. Investasi di sektor keuangan bisa dilakukan dengan membeli produk halal yang dikeluarkan oleh perbankan syariah, asuransi syariah maupun pasar modal syariah. Ragam produk keuangan, antara lain adalah deposito, unitlink, ORI, reksa dana, obligasi, saham, dan lainnya.

Sedangkan investasi di instrumen bukan finansial bisa dengan cara membeli properti, mengelola rumah kos, membeli logam mulia hingga membuka toko.

Semua instrumen investasi tersebut memiliki profil risiko yang berbeda-beda. Bagi yang piawai berbisnis, berwirausaha lebih tepat untuk mendapatkan kebebasan finansial. Sedangkan investasi di emas dan pasar modal syariah lebih cocok untuk investor pasif, seperti para karyawan yang waktunya sudah terkuras habis di tempat kerja. Konsep berinvestasi adalah diversifikasi risiko. Jangan menempatkan seluruh uang dalam satu produk investasi agar risikonya tersebar.

Bagaimana cara mengatur penghasilan agar bisa menyisihkan untuk dana pensiun? Pertama, mulailah menyusun anggaran. Berapa penghasilan, berapa pengeluaran setiap bulannya dan berapa dana yang harus disisihkan untuk tabungan pensiun.

Kedua, membuat skala prioritas. Kita harus mulai menyeleksi mana kebutuhan yang sifatnya primer atau pokok, mana kebutuhan sekunder dan mana kebutuhan tersier atau kemewahan.

Ketiga, melunasi utang-utang agar cash flow keluarga lebih sehat. Berutang untuk hal yang sifatnya konsumtif, seperti membeli peralatan elektronik, gadget atau  furnitur sebaiknya dihindari jika hanya memenuhi keinginan. Jika utang bersifat produktif, seperti membeli properti tidak menjadi masalah karena nilainya meningkat atau menambah penghasilan.

Keempat, mulailah menyisihkan dana untuk menabung dan berinvestasi. Dana tabungan untuk berjaga-jaga dari kebutuhan yang bersifat darurat, sedangkan dana investasi untuk mencapai tujuan masa depan, seperti dana pendidikan dan dana pensiun.

Kelima, pilih investasi yang cocok sesuai karakter dan kemampuan Anda. Apapun investasinya pasti memiliki risiko merugi. Karena itu, kita harus memilih produk investasi yang paling sesuai dengan kemampuan finansial, waktu, kesiapan mental menanggung risiko rugi hingga ketrampilan kita.

Perlu Perhatian

Masalah finansial perlu mendapat perhatian bila kita menginginkan pensiun yang sejahtera. Bila Anda belum memulai atau merasa terlambat berinvestasi maka porsi uang yang disisihkan harus lebih banyak karena jangka waktu menabung dengan usia penisun relatif semakin dekat.

Oleh karena itu, sisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan pensiun. Perhitungkan kebutuhan dana pensiun untuk membiayai kebutuhan hidup hingga 20 tahun ke depan bila ekspektasi usia hidup kita sampai 75 tahun dan pensiun di usia 55 tahun. Besarnya dana pensiun setiap orang akan berbeda-beda, tergantung gaya hidup masing-masing. Tidak ada yang tahu kapan usia hidup kita di dunia. Yang bisa kita lakukan adalah ikhtiar maksimal seakan-akan mau hidup 1000 tahun dan beribadahlah sebaik mungkin, seakan-akan mau mati esok hari. (maida)

Related posts

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *