Thursday, 25 May 2017

Ketimpangan Ekonomi Makin Besar, MUI Bantu Cari Solusi

Ketimpangan Ekonomi Makin Besar, MUI Bantu Cari Solusi

JAKARTA, Swamedium – Penguasaan aset-aset ekonomi oleh usaha asing dan usaha skala besar yang semakin hari semakin besar menjadi permasalahan ekonomi Indonesia. Ini mengakibatkan ketimpangan ekonomi yang semakin lebar karena sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) hanya menguasai kurang 20% dari total nilai ekonomi nasional.

Masalah pemerataan ekonomi itu akan dibahas oleh para pakar dan tokoh masyarakat yang hadir di acara Kongres Ekonomi Umat dengan tema “Arus Baru Ekonomi Indonesia” yang akan diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, 22 April-24 April 2017. Sejumlah pengusaha, seperti Arifin Panigoro dan Chaerul Tanjung akan hadir di acara tersebut.

Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Pusat, M Azrul Tanjung mengatakan UUD 1945 Pasal 33 telah mengamanatkan kepada kita bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, dan lainnya. Namun, faktanya saat ini banyak penguasaan ekonomi belum merata.

Kepemilikan modal terhadap beberapa sektor penting, terutama yang menjadi hajat hidup orang banyak masih dikuasai oleh pihak tertentu, sementara perundangan membuka seluas-luasnya pada partisipasi seluruh bangsa. Akibatnya, menurut Azrul, penguasaan aset-aset ekonomi oleh asing dan usaha besar semakin besar, sedangkan UMKM hanya memperoleh porsi masih di bawah 20 persen dari nilai ekonomi nasional.

“Dengan demikian terjadi ketimpangan ekonomi dan pendapatan menjadi permasalahan ekonomi Indonesia,” tutur Azrul pada Konferensi Pers di Jakarta, Jumat (21/4)

Menurut Azrul, salah satu agenda dalam kongres tersebut adalah Penguatan sektor UMKM yang berlandaskan prinsip halal.

“Ini (Penguatan UMKM) akan diberi porsi besar dalam kongres ini. Sebab UMKM yang relatif lebih tahan terhadap krisis ekonomi dan mampu menyerap tenaga kerja hampir 97 persen dari total pekerja di Indonesia,”Kata Azrul.

Dia menambahkan UMKM kini sulit memperluas pangsa pasar karena usaha-usaha besar mulai menguasai seluruh segmentasi dan target pasar.

“Usaha-usaha kecil susah mengakses pasar karena usaha besar memproteksi pasar. Kita bisa melalukan negosisasi kepada pengusaha besar agar produk UMKM bisa masuk ke pasar mereka,” jelas Azrul.

Menurut data yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI), Saat ini baru 30 persen UMKM yang mampu mengakses pembiayaan dari total 570 ribu UMKM yang tersebar di Indonesia. Dari total tersebut, alokasi dana perbankan yang diperuntukan bagi UMKM hanya 20 persen.

Kongres Ekonomi Ummat tersebut juga akan berupaya menggerakkan ekonomi umat melalui Koperasi, UMKM berbasiskan syariah dan menjadi pelaku usaha utama perekonomian nasional. Selain itu, juga akan mewujudkan mitra sejajar usaha besar dengan Koperasi dan UMKM dalam sistem produksi dan pasar terintegrasi.(ima)

Related posts

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *