Friday, 19 January 2018

Buah Simalakama Politik Indonesia

Buah Simalakama Politik Indonesia

Foto: Aksi 212 yang menuntut ditegakkannya keadilan terhadap terdakwa pelaku penistaan agama. (ist)

Oleh: AB Latif*

Jakarta, Swamedium.com — Pasca Pilkada Jakarta putaran ke-2 yang dilaksanakan Rabu, 19 April 2017 menyisakan suhu panas perpolitikan di Indonesia. Pasangan calon yang sangat tenar yaitu Ahok-Jarot, begitu digadang-gadang pemerintah dengan dukungan para pemodal yang cukup kondang, dengan taruhan biaya triliyunan rupiah ternyata harus menerima kekalahan. Mereka para pendukung Ahok, baik dari rezim atau dari para pemodal asing dan aseng begitu kecewa yang luar biasa. Buah dari kekecewaan mereka inilah muncul berbagai kebijakan-kebijakan yang menyasar musuh-musuh politik mereka. Politik balas dendam pun tak terelakan.

Banyak fakta dari kebijakan yang diduga buah dari kekalahan Ahok-Jarot, diantaranya adalah wacana pembubaran HTI yang disampaikan melalui Menkopolhukan pada tanggal 8 Mei 2017 (kompas.com, 9 Mei 2017). Kebijakan ini ternyata mendapat pertentangan dari berbagai elemen masyarakat. Akibatnya pemerintah pun kian melemah. Munculah plan selanjutnya, yaitu meledaklah bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur pada hari Rabu malam tanggal 24 Mei 2017 yang telah menewaskan 3 orang anggota kepolisian yang sedang menjaga pawai obor (kompas.com, 25 Mei 2017). Karena membubarkan HTI dan ormas-ormas Islam yang kerap mengkritik pemerintah dianggap sulit, maka harus ada instrument hukum yang memayungi. Dengan bom kampung melayu ini diharapkan dapat merevisi undang-undang ormas dan undang-undang terorisme yang akan dipakai sebagai dasar hukum pembubaran ormas Islam.

Selain ormas Islam, individu pun tak luput dari sasaran dendam politik. Banyak ulama–ulama yang mukhlis (ikhlas) dan kritis menjadi sasaran politik balas demdam ini. KH. M. Al Khaththath sebagai korban pertama atas kekalahan Ahok-Jarot. Disusul dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA), Alfian Tanjung pun terkriminalisasikan. Akibatnya kini ia ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik (tribun-medan.com, 30 Mei 2017). Dan kini Bapak Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Bapak Prof. Dr. Amien Rais juga tak luput untuk dikriminalisasikan. Amien Rais diduga telah menerima aliran dana sebesar Rp. 600 juta yang berasal dari korupsi pengadaan alat kesehatan kementerian kesehatan tahun 2017 (tribunsolo.com, 3 Juni 2017).

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)