Thursday, 17 August 2017

Kemristekdikti Berambisi Cetak Banyak Doktor dengan Cepat

Kemristekdikti Berambisi Cetak Banyak Doktor dengan Cepat

Jakarta, Swamedium.com – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) melalui Direktorat Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) menyediakan peluang beasiswa jalur cepat bagi dosen dan para sarjana Strata 1 untuk menjadi doktor dalam waktu 4 tahun di 12 perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Dalam program doktor jalur cepat ini, lulusan S1 cukup menempuh program S2 atau master selama setahun dan program S3 tiga tahun, sehingga total waktu untuk meraih gelar doktor cukup 4 tahun saja atau lebih cepat dari seharusnya.

Peningkatan jumlah doktor itu diharapkan mampu mendongkrak mutu dosen pengajar di perguruan tinggi, sehingga lulusan yang dihasilkan juga berkualitas.

“Sampai 2021 lebih dari 6.000 dosen akan pensiun. Oleh karena itu, beasiswa ini menjadi terobosan untuk meningkatkan kapasitas dosen dan mencetak sumber daya iptek dikti dari sarjana unggul,” ujar Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Ali Ghufron Mukti dalam konferensi pers, di awal pekan ini.

Seperti diketahui, mutu dan kompetensi dosen akan menentukan output lulusan sekaligus reputasi suatu perguruan tinggi. Hingga saat ini, tercatat 34.933 dosen di Indonesia masih berkualifikasi S-1. Sedangkan jumlah profesor masih ada di angka 5.389 orang. Padahal, idealnya seharusnya Indonesia butuh 22 ribu profesor.

Kemristekdikti) melalui SDID berkomitmen meningkatkan jumlah tenaga pendidik atau dosen serta ilmuwan yang kompetitif di masa depan. Hal ini dilakukan melalui sejumlah skema beasiswa pascasarjana (S-2 dan S-3), baik di universitas dalam negeri maupun luar negeri.

Tiga beasiswa yang diluncurkan, yakni Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN), Beasiswa Afirmasi untuk Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB), dan Beasiswa Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Adapun kuota yang diberikan, yakni 1.000 penerima untuk BPP-DN, 150 penerima beasiswa Afirmasi PTNB, dan 250 beasiswa PMDSU.

Ghufron menjelaskan, beasiswa jenjang S-2 untuk dosen tetap yang memiliki NIDN atau NUPN diberikan melalui skema beasiswa Afirmasi PTNB. Sedangkan BPP-DN diberikan kepada dosen di lingkup Kemristekdikti untuk menempuh jenjang S-3. Tak hanya itu, tersedia juga beasiswa dosen ke luar negeri, yakni dilakukan melalui skema Dikti Funded Fulbright ke Amerika Serikat (AS) untuk 50 penerima, OeAD dengan Austria untuk 10 penerima, dan Newton Fund dengan Inggris untuk delapan penerima.

“Untuk ketiga beasiswa dalam negeri, yaitu BPP-DN, Beasiswa Afirmasi, dan PMDSU sudah mulai dibuka pendaftarannya 5 Juni sampai dengan 30 Juni 2017,” tuturnya.

Khusus untuk beasiswa PMDSU, imbuh Ghufron, akan diberikan kepada fresh graduate yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang doktor dengan masa pendidikan selama empat tahun. Pada program ini, sarjana unggul tersebut dituntut menghasilkan minimal dua publikasi hasil riset di jurnal internasional.

“Fasilitas pendanaan beasiswa PMDSU berupa hibah penelitian untuk mahasiswa sebesar Rp50-60 juta per tahun dan mendapat bimbingan penulisan publikasi ke luar negeri. Bagi promotor, mereka akan difasilitasi kerjasama SAME PMDSU ke perguruan tinggi atau lembaga luar negeri,” tandasnya.(maida)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments from Facebook ()