Friday, 20 April 2018

Apakah Negara Selalu Benar?

Apakah Negara Selalu Benar?

Foto: Ilustrasi (ist)

Oleh: Aries Supriono*

Jakarta, Swamedium.com — Belajarlah pada kasus Fir’aun yang pongah, Namrud yang sombong, Romawi yang menindas, Jalut yang takabbur. Yang terkisah baik misal Daud dan Sulaiman, itu pun atas bimbingan Allah. Begitulah kekuasaan, bila jauh dari bimbingan Allah, pastilah ia menyimpang, akhirnya menjadi sarang kemaksiatan, dan anti terhadap kebaikan, jadi musuh kebenaran. Bagaimana kesudahan penguasa-penguasa dzalim itu semua sudah kita baca, semua merasa bisa memadamkan kebenaran, akhirnya semua dibinasakan oleh Allah.

Imam Muslim telah menuturkan riwayat dari Auf bin Malik, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR Muslim).

Bagaimana dengan pemimpin umat Islam sekarang? Tanpa ragu kita mengatakan hampir sebagian besar pemimpin negeri Islam sekarang ini masuk dalam kategori seburuk-buruk pemimpin. Sebagian besar pemimpin negeri Islam justru membenci dan melaknat rakyatnya sendiri. Sebaliknya, rakyatnya pun demikian. Mengapa rakyat membenci dan melaknat pemimpin mereka sendiri?

Hari-hari ini kita disuguhkan sebuah doktrin baru, “Negara pasti benar”, maka siapa jadi penguasa, dia boleh menentukan “Ini yang benar dan ini yang salah”, sangat pongah. Penguasa hari ini memegang cap “anti-kebhinekaan”, “anti-pancasila”, dan akan diberikan pada siapapun yang menurut mereka perlu diberangus, tanpa secuil keadilan. Pokoknya tanpa data, tanpa bukti, tanpa argumen, siapapun yang tak disukai penguasa harus ridha dicap anti-NKRI, menimbulkan benturan, dan keonaran.

Gebuk! Begitu ujaran penuh kebencian dan sangat provokatif, alasannya mempertahankan keutuhan bangsa. Duhai! yang sudah nyata-nyata memecah belah malah dipuja. Martabat ulama dan ummat dipertaruhkan demi pembelaan terhadap segelintir yang punya duit, yang sekarang serakah juga ingin jadi penguasa, tirani minoritas atas mayoritas. Sementara pihak yang harusnya menegakkan hukum, malah nyata-nyata menunjukkan keberpihakan. Turut serta dalam mengkriminalisasi ulama dan ummat Islam. Kembali ke awal, Mengapa rakyat membenci dan melaknat pemimpin mereka sendiri?

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)