Thursday, 17 August 2017

Apakah Negara Selalu Benar?

Apakah Negara Selalu Benar?

Foto: Ilustrasi (ist)

Oleh: Aries Supriono*

Jakarta, Swamedium.com — Belajarlah pada kasus Fir’aun yang pongah, Namrud yang sombong, Romawi yang menindas, Jalut yang takabbur. Yang terkisah baik misal Daud dan Sulaiman, itu pun atas bimbingan Allah. Begitulah kekuasaan, bila jauh dari bimbingan Allah, pastilah ia menyimpang, akhirnya menjadi sarang kemaksiatan, dan anti terhadap kebaikan, jadi musuh kebenaran. Bagaimana kesudahan penguasa-penguasa dzalim itu semua sudah kita baca, semua merasa bisa memadamkan kebenaran, akhirnya semua dibinasakan oleh Allah.

Imam Muslim telah menuturkan riwayat dari Auf bin Malik, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR Muslim).

Bagaimana dengan pemimpin umat Islam sekarang? Tanpa ragu kita mengatakan hampir sebagian besar pemimpin negeri Islam sekarang ini masuk dalam kategori seburuk-buruk pemimpin. Sebagian besar pemimpin negeri Islam justru membenci dan melaknat rakyatnya sendiri. Sebaliknya, rakyatnya pun demikian. Mengapa rakyat membenci dan melaknat pemimpin mereka sendiri?

Hari-hari ini kita disuguhkan sebuah doktrin baru, “Negara pasti benar”, maka siapa jadi penguasa, dia boleh menentukan “Ini yang benar dan ini yang salah”, sangat pongah. Penguasa hari ini memegang cap “anti-kebhinekaan”, “anti-pancasila”, dan akan diberikan pada siapapun yang menurut mereka perlu diberangus, tanpa secuil keadilan. Pokoknya tanpa data, tanpa bukti, tanpa argumen, siapapun yang tak disukai penguasa harus ridha dicap anti-NKRI, menimbulkan benturan, dan keonaran.

Gebuk! Begitu ujaran penuh kebencian dan sangat provokatif, alasannya mempertahankan keutuhan bangsa. Duhai! yang sudah nyata-nyata memecah belah malah dipuja. Martabat ulama dan ummat dipertaruhkan demi pembelaan terhadap segelintir yang punya duit, yang sekarang serakah juga ingin jadi penguasa, tirani minoritas atas mayoritas. Sementara pihak yang harusnya menegakkan hukum, malah nyata-nyata menunjukkan keberpihakan. Turut serta dalam mengkriminalisasi ulama dan ummat Islam. Kembali ke awal, Mengapa rakyat membenci dan melaknat pemimpin mereka sendiri?

Pertama: sebagian besar pemimpin negeri Islam telah melalaikan hak-hak utama rakyat yang menjadi tanggung jawab pemimpin. Lihatlah, sebagian besar negeri Islam, meskipun kaya-raya, rakyatnya miskin. Mereka tidak mendapat makanan, pakaian dan tempat tinggal yang layak. Padahal semua itu merupakakan kebutuhan pokok manusia. Pendidikan pun sebagian besar mahal dan tidak berkualitas. Di sisi lain tidak sedikit rakyat yang terlantar menahan sakit keras hingga ajal menjemput karena biaya kesehatan yang mahal.

Alih-alih memperhatikan rakyat, para penguasa itu beserta keluarga dan kroni-kroni pendukung kekuasaannya justru memperkaya diri. Mereka tanpa malu, di depan rakyat yang menderita, mempertontonkan kekayaaan hasil kejahatan mereka; merampas kekayaan alam negara dan merampas hak rakyat dengan cara korupsi, manipulasi dan kolusi.

Kedua: para penguasa zalim di negeri Islam telah menjadi penguasa pemalak rakyat (jibayah) dan perampok kekayaan negara. Mereka membuat kebijakan kapitalistik yang memperberat beban rakyat yang sudah berat. Mereka megutip berbagai pajak dari rakyat. Mereka mengurangi dan mencabut apa yang mereka klaim sebagai subsidi terhadap rakyat (meskipun hal itu sebenarnya merupakan hak rakyat). Mereka melepaskan diri dari tanggung jawab untuk mengurus rakyat, membiarkan rakyat mengurus diri mereka sendiri. Ironisnya, semua ini mereka lakukan dengan cara menipu. UU disusun untuk menciptakan eksploitasi atas rakyat sendiri demi keuntungan kapitalis. Ini tentu sangat berbahaya karena berarti negara telah mempertaruhkan nasib jutaan rakyatnya kepada kuasa pemodal dan pasar yang rakus.

Ketiga: para pemimpin diktator telah memberikan jalan yang seluas-luasnya bagi asing untuk merampok kekayaan alam negeri Islam. Penguasa lalim itu lebih memilih tunduk pada kebijakan ekonomi dan politik negara imperialis lewat organ-organ penjajahan mereka seperti IMF dan Bank Dunia. Kekayaan alam negeri Islam dirampok atas nama pasar bebas, kebebasan berinvestasi, privatisasi, hutang luar negeri untuk membangun dan istilah-istilah muluk lainnya.

Ironisnya, semua itu dilegalkan oleh undang-undang negara. Padahal kekayaan alam negeri Islam, kalaulah digunakan untuk kepentingan rakyat, tentu lebih dari cukup. Namun, semua itu memang tidak akan pernah cukup bagi bagi negara-negara rakus yang didukung oleh pemimpin negeri Islam yang serakah.

Keempat: Sebagian besar pemimpin negeri-negeri Islam adalah diktator yang represif. Kekuasaan mereka, mereka gunakan secara keji dan brutal untuk menindas rakyat, membungkam aspirasi rakyat. Penguasa ini menangkap, menyiksa, membunuh, mengadili secara lalim siapapun dari rakyatnya yang dianggap mengancam dan berlawanan dengan kepentingan politiknya.

Para pemimpin diktator dan refresif ini bersikap keji, karena mereka telah menjadi kaki tangan dan boneka negara-negara imperialis. Tuan-tuan mereka ini telah memberikan tugas khusus kepada mereka: membungkam aspirasi rakyat dan perjuangan rakyat untuk menegakkan syariah Islam dan Khilafah. Sebab, penegakan syariah Islam mengancam kepentingan penjajahan Barat di negeri negeri Islam.

Para penguasa lalim ini pun memberikan label jahat kepada rakyatnya sendiri. Tujuannya, apalagi kalau bukan membenarkan pembunuhan terhadap rakyatnya. Umat Islam yang memperjuangkan syariah Islam dan Khilafah dituduh radikal, teroris, garis keras, ekstremis, militan mengancam negara dan lain-lain. (*)

Penulis adalah Pengamat dari Resist Invasion Center (RIC)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments from Facebook ()