Wednesday, 18 October 2017

Indonesia Hadapi Lima Ancaman Kedaulatan

Indonesia Hadapi Lima Ancaman Kedaulatan

Foto: Diskusi "Dari Brebes Membaca Indonesia", Sabtu (10/6). (asmc)

Brebes, Swamedium.com — Ketua Institut Harkat Negeri Sudirman Said menyatakan,  ada lima tantangan nasional yang jika  tidak dikelola dengan seksama akan mengancam kedaulatan bangsa Indonesia.

“Tantangan ini harus dikelola dengan baik, dicarikan solusi terbaik agar tidak menjadi ancaman bagi kedaulatan bangsa,” kata Sudirman Said pada acara diskusi bertajuk Dari Brebes Membaca Indonesia, Sabtu (10/6) sore di Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Brebes, Jawa Tengah.

Lebih lanjut Sudirman menguraikan, lima tantangan tersebut. Pertama, makin melebarnya kesenjangan ekonomi. Sekarang hal ini menjadi sesuatu yang semakin eksplisit dibicarakan dan kajian kajian di berbagai kalangan.

Kedua, terkoyaknya kohesi sosial, yang satu dan lain hal didorong juga oleh melebarnya kesenjangan ekonomi yang memicu sensitivitas hubungan sosial antar kelompok dan antar warga.

Ketiga, lemahnya penegakan hukum, yang berkelindan dengan suasana keadilan sosial yang terkoyak. 

“Ada perasaan umum, hukum hanya berlaku bagi si lemah, sementara si kuat yang punya kuasa dan modal beroleh kesempatan luas untuk memperkosa dan membeli hukum,” tegas Sudirman, yang juga pernah menjabat Menteri ESDM periode 2014-2016 ini.

Tantangan keempat, lanjut Sudirman adalah praktik korupsi yang makin akut menjangkiti elit dan merusak struktur penyelenggara negara pada tataran paling tinggi: eksekutif, legislatif, yudikatif, dan bahkan lembaga eksaminatif.

“Praktik korupsi ini menjadi signal dan contoh buruk bagi pembentukan karakter dan perilaku warga negara keseluruhan,” kata Sudirman, yang kini menjadi Ketua Tim Sinkronisasi Anies-Sandi.

Tantangan kelima,  lanjut Sudirman adalah politik dan praktik demokrasi prosedural yang semakin hari semakin cenderung merusak diri sendiri (self-destructive).  

Amat berbeda dengan perilaku politisi di era awal Republik berdiri, politisi hari ini jauh dari perilaku luhur, rela berkorban, beorientasi pada rakyat semata. 

“Praktik politik hari ini kental dengan warna manipulasi, ugal-ugalan, semau gue, dan egosentris,” tandas pria kelahiran Brebes ini.

Butuh Kepemimpinan yang Mencerdaskan

Menghadapi tantangan-tantangan mendasar dan nyata itu dan dalam setting kompleksitas dan kemajemukan bangsa tidak banyak pilihan yang bisa diambil. Indonesia harus terus maju dan didorong memperkuat dirinya, mempertahankan kedaulatannya.

“Dalam banyak kerumitan, peran kepemimpinan yang mumpuni sering menjadi solusi. Kita menmbutuhkan berlapis lapis pemimpin yang kredibel: yang menjunjung tinggi kejujuran, memiliki kompetensi, menghargai dan mampu mengelola kemajemukan,” jelas dia.

Menurut Sudirman, Indonesia harus menyemai sebanyak mungkin bibit bibit kepemimpinan yang mencerdaskan. Bukan pemimpin yang serba sederhana, menyederhanakan, merendahkan standar praktik berbangsa dan bernegara, dan mendangkalkan akal budi. Menurutnya, Pemimpin seperti itu hanya akan berdampak pada pelemahan seluruh instrumen bernegara dan warga negara.

“Indonesia terlalu penting untuk menjadi negara yang lemah. Demi kedaulatan, demi generasi mendatang, perjuangan kita adalah menghadirkan sebanyak mungkin pemimpin yang mencerdaskan.  Dari merekalah akan lahir solusi dan inspirasi untuk menyelesaikan berbagai tantangan nyata di depan mata,” pungkas Sudirman. (ls)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)