Friday, 24 November 2017

Ketua UKP-PIP Bicara Ekonomi Pancasila di Bukber Alumni ANU Canberra

Ketua UKP-PIP Bicara Ekonomi Pancasila di Bukber Alumni ANU Canberra

Foto: Alumni ANU Canberra menggelar buka puasa bersama dan silaturahmi. (Nico/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com — Alumni The Australian National University (ANU), Canberra, Australia, mengadakan acara buka puasa bersama di Jakarta, Sabtu (10/6). Acara yang difasilitasi oleh Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) ini mengundang alumni lintas generasi mulai angkatan 1990-an hingga 2015.

Nampak puluhan peserta berlatar belakang berbagai profesi, baik pegawai pemerintah, BUMN, dosen, kyai, peneliti, pegiat NGO ataupun diplomat hadir dalam acara bertajuk “Buka Puasa Bersama: Edisi Tadarus Islam Kebangsaan” ini.

Yudi Latief, Alumni ANU tahun 1997 menjadi pembicara utama yang mengambil bahasan tentang “Makrifat Islam Kebangsaan”.

Dalam uraiannya Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) ini menjelaskan bahwa Pancasila sebagai sistem nilai dan landasan filosofi dalam berbangsa perlu direvitalisasi kembali dalam konteks kekinian dan kedisinian. Salah satunya melalui penerapan Pancasila dalam perekonomian ditengah ketimpangan yang sangat tajam saat ini.

Dalam uraiannya, Yudi mengatakan, konsep kepemilikan dalam Ekonomi Pancasila berada di tengah-tengah antara sistem Kapitalisme dan Sosialisme. Sehingga, kata Yudi, penguasaan lahan jutaan hektar oleh segelintir elit ekonomi nasional secara substansi adalah pelanggaran terhadap nilai-nilai Pancasila.

“Seharusnya berlaku inklusi ekonomi yaitu penerapan demokrasi ekonomi, dimana perekonomian tidak hanya dimonopoli oleh sedikit golongan kaya, namun juga bisa dinikmati oleh kelompok ekonomi lemah,” kata Yudi.

Dalam membangun, lanjut Yudi, seharusnya pemerintah tidak mematikan para pelaku ekonomi kecil yang ada. Yudi mencontohkan bagaimana Karawang yang dulunya adalah lumbung padi nasional dan sekarang telah berubah menjadi kawasan industri.

“Seharusnya alih fungsi lahan tidak seenaknya dilakukan tanpa memperhatikan dampaknya terhadap keberlangsungan usaha rakyat kecil. Kalau perlu dibangun jalan layang diatas persawahan tanpa merusak fungsinya sebagai lahan pertanian”, ucap Ketua UKP-PIP.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)