Monday, 23 October 2017

Pekan Raya Jakarta, Awalnya untuk Peringati HUT Ratu Belanda

Pekan Raya Jakarta, Awalnya untuk Peringati HUT Ratu Belanda

Foto: Suasana Pasar Gambir tahun 1925. Koleksi foto Museum Troppen Belanda. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair Kemayoran (JFK) yang tahun 2017 merupakan penyelenggaraan ke-50, mulanya adalah pasar malam yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari penobatan Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda.

Pertama kali diselenggarakan pada tahun 1898, seiring dengan penobatan Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1898 sekaligus merupakan Hari Ulang Tahun Ratu Wilhelmina. Sejak itu, pasar malam yang digelar di lapangan Koeningsplein (kini lapangan Monumen Nasional/Monas) menjadi agenda rutin yang dihelat saban tahun.

Karena lokasinya yang berada di wilayah Gambir, pasar malam ini dikenal pula sebagai Pasar Gambir. Penyelenggaraannya antara bulan Agustus dan September.

Mulanya digelar selama satu pekan. Namun mengingat minat masyarakat yang sangat tinggi, pasar malam tersebut digelar selama dua pekan. Tahun 1906 jumlah pengunjung tercatat 75.000 orang dan meningkat menjadi 334.985 orang pada 1921.

Pihak Kota Praja selaku penyelenggara membagi kegiatan menjadi dua stand, terbuka dan tertutup. Stand terbuka tidak dipungut biaya. Pertunjukannya lotere, permainan konel, pertunjukkan layar tancap yang memutar film komedi Charlie Chaplin.

Sedangkan stand tertutup dikenakan biaya masuk 10 sen untuk pribumi dan 25 sen untuk pengunjung asal Belanda dan Eropa lainnya yang saat itu tengah berada di Batavia (sebutan untuk kota Jakarta di masa pemerintahan Hindia-Belanda).

Di stand tertutup yang bayar ini ada pertunjukan sulap Schand, motor dalam keranjang, tong setan, aksi manusia dibakar, tarian Alloha Hawai, dan Dancing Hall. Pada tahun 1923, pertunjukan Karapan Sapi dari Madura juga diadakan di Pasar Gambir.

Tarian Doger, Kerak Telor Hingga Laksa

Pada tahun 1937, Pasar Gambir mulai mempertunjukkan kesenian rakyat seperti tarian doger, wayang wong, dan ketoprak. Diadakan pula perlombaan keroncong, dansa, paduan suara, kasti, laying-layang, panjat pohon pinang, dan bahkan pertandingan sepak bola pun pada tahun ini ikut ditampilkan.

Di dalam area Pasar Gambir, para penduduk asli Indonesia menyediakan warung-warung kecil untuk menjual nasi dan lauk-pauk serta minuman. Para pedagang makanan kaki lima seperti kerak telor dari Tanjung Duren, laksa dari Petamburan, dan bandrek dari Manggarai, juga ikut berjualan di dalam maupun area luar pasar menuju gerbang masuk.

Es krim Ragusa yang kala itu amat terkenal di kota Batavia, juga pernah ikut berpartisipasi di Pasar Gambir dan cukup banyak diminati pengunjung di masanya. Selain itu, para pendatang dari Eropa juga memiliki restoran tersendiri di dalam kawasan Pasar Gambir.

Salah satu hal yang menjadi daya tarik Pasar Gambir adalah pintu gerbangnya yang dirancang dengan meniru berbagai bangunan khas Indonesia yang setiap tahun selalu berbeda-beda. Suatu ketika pintu gerbangnya dibuat dengan arsitektur Rumah Gadang Sumatera Barat. Pernah pula berbentuk pura Bali.

Selain aneka permainan, lomba, dan kesenian, daya tarik Pasar Gambir lainnya yang selalu menyedot perhatian pengunjung adalah pesta kembang api. Surat kabar Batavia (Batavia Nieuwsblaad) terbitan tahun 1921 pernah menulis, langit Batavia pada malam hari di atas lapangan Koeningsplein menjadi terang menyala dengan indahnya karena kembang api yang dinyalakan.

Pesta kembang api itu dinyalakan setiap pembukaan, penutupan, dan tepat HUT Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus. Produk kembang api yang digunakan berasal dari pabrik kembang api Gorz di Krukut dan Lauw Kang Boen di kawasan Angke.

Pada tahun 1937, sejumlah lembaga pemerintahan ikut memeriahkan Pasar Gambir dengan memamerkan hasil penggalian minyak dan tanaman khas Indonesia.

Gelaran Pasar Gambir yang sudah berlangsung sejak 1898, berhenti ketika masa pendudukan Jepang (1942-1945). Pada masa kemerdekaan, kegiatan ini kembali dihidupkan pada masa Gubernur Ali Sadikin dan kini dikenal sebagai Pekan Raya Jakarta atau PRJ. (*/ls)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)