Thursday, 17 August 2017

Listrik Naik dan Utang Membengkak, PLN Terancam Dijarah Taipan

Listrik Naik dan Utang Membengkak, PLN Terancam Dijarah Taipan

Foto: Dirut PLN Sofyan Basir bersama Jokowi dan Rini Sumarno. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Kinerja PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) terus menunjukkan performa yang mengkhawatirkan, mengingat utang-utangnya yang terus membengkak.

Kinerja PLN sendiri di tahun ini sudah menaikan tarif dasar listrik (TDL) atau mencabut subsidi terutama untuk golongan 900 volt ampere (VA), mestinya kebijakan berutangnya tak terlalu tinggi.

“Tapi anehnya, semua kebijakan terus dilakukan, agar bisa punya kemampuan untuk berutang. Seperti melakukan revaluasi aset. Itu dilakukan hanya untuk memperlebar ruang berutang PLN,” kata pengamat ekonomi politik dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, Sabtu (10/6).

Menurutnya, dengan melakukan revaluasi aset, nilai aset PLN memang membengkak menjadi Rp1.250 triliun. Tapi kebijakan itu, jelas Daeng, hanya untuk mempermudah perseroan untuk berutang saja. Makanya pihak PLN selalu berdalih rasio utangnya atau debt to equity ratio (DER)-nya selalu diklaim masih aman.

“Padahal dari sisi capaian laba PLN, mereka tidak mungkin membayar utang raksasa yang diderita PLN. Bahkan yang ada, cepat atau lambat PLN akan habis dijarah asing dan taipan. Dan menjadi milik asing,” tandasnya.

Dari catatan yang dimiliki Daeng, total utang PLN telah mencapai Rp500,175 triliun. Nilai itu belum termasuk rencana utang terbaru PLN yang akan menerbitkan surat utang (obligasi dan sukuk) senilai Rp10 triliun.

“Ini merupakan perusahaan dengan rekor tertinggi dalam mengambil utang. Total utang PLN sebelum revaluasi aset itu telah lebih dari 100% dari total asetnya,” kata dia seperti dikutip Aktual.com.

Pertanyaannya, lanjut Daeng, sampai kapan PLN dapat membayar utangnya. Meskipun, seluruh keuntungan yang diperoleh perseroan digunakan untuk bayar utang, dalam tempo 50 tahun belum tentu akan lunas.

Itulah mengapa, kata Daeng, tarif listrik terus digenjot naik tanpa memikirkan daya beli masyarakat.

“Bahkan kenaikan listrik sendiri telah mengesampingkan kondisi penurunan harga batubara, gas dan minyak yang merupakan unsur biaya terbesar dalam PLN selama ini,” pungkasnya. (*/ls)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comments from Facebook ()