Monday, 11 December 2017

MUI Minta Kaji Ulang Kebijakan Sekolah Lima Hari Sepekan

MUI Minta Kaji Ulang Kebijakan Sekolah Lima Hari Sepekan

Foto: Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mengkaji kembali kebijakan sekolah lima hari sepekan dan belajar delapan jam per hari.

Menurut dia, kebijakan tersebut akan berpengaruh terhadap praktik penyelenggaraan pendidikan keagamaan yang selama ini dikelola oleh swadaya masyarakat.

“Praktik pendidikan keagamaan seperti Madrasah Diniyah dan pesantren biasanya kegiatan belajarnya dimulai sepulang dari sekolah umum (SD, SMP, SMU),” kata Zainut, Minggu (11/6) seperti dikutip Republika.

Dia menjelaskan, pendidikan seperti Madrasah Diniyah dan pesantren telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi pembentukan nilai-nilai keagamaan. Bahkan berkontribusi dalam pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai akhlak mulia bagi anak.

Namun dikhawatirka, lanjurt Zainut, dengan diberlakukannya pendidikan selama delapan jam sehari dapat dipastikan pendidikan seperti Madrasah akan gulung tikar. Padahal keberadaan Madrasah masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

“Saya tidak bisa membayangkan berapa jumlah Madrasah Diniyah yang dikelola secara mandiri dan sukarela oleh masyarakat akan tutup. Berapa jumlah pengajar yang selama ini mendidik anak siswa dengan ikhlas tanpa pamrih akan kehilangan ladang pengabdiannya,” ucapnya.

Zainut menegaskan, hal ini akan catatan kelam bagi dunia pendidikan Islam di negeri yang berdasarkan Pancasila.

“Menjadi sangat menyedihkan,” sergahnya.

Meski, dalih pemerintah, kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan dan belajar delapan jam sehari merupakan bagian dari program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), namun Menurut Zainut, kebijakan perlu dipikirkan ulang.

Sebab, apakah semua sekolah memiliki sarana pendukung untuk terciptanya sebuah proses pendidikan yang baik. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah tersedianya jumlah pengajar yang cukup.

“Jika tidak ada sarana pendukung yang memadai dan pengajar yang cukup, alih alih dapat terbangun suasana kegiatan belajar mengajar yang kondusif, anak didik bisa belajar dengan tenang, senang dan nyaman selama delapan jam. Justru yang terjadi adalah anak didik akan menjadi jemu dan stres,” jelasnya.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)