Saturday, 23 September 2017

Menolak Pacaran lewat Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran

Menolak Pacaran lewat Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran

Foto: Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran. (Yetty/jurnalis warga/swamedium)

Surabaya, Swamedium.com — Hasil survei Komnas Perempuan pada 2008 menyebutkan, sebanyak 63 persen gadis remaja SMP sudah tidak memiliki keperawanan lagi. Remaja yang jumlahnya 30 persen dari 245 juta penduduk Indonesia paling rawan terkena imbas salah pergaulan, berupa penyalahgunaan narkoba, seks bebas, dan bahaya HIV/AIDS.

Kemudian, tahun 2012 menunjukkan 48 orang dari 1.000 remaja putri usia 15-19 tahun sudah melahirkan. Sekitar 2 juta dari 7,3 perempuan Indonesia berusia di bawah 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Jumlah itu diperkirakan naik menjadi 3 juta orang pada 2030. Banyak dari remaja berusia kurang dari 21 tahun memilih untuk menikah dengan berbagai alasan, salah satunya adalah terjerumus dalam pacaran.

Hal itulah yang membuat pria bernama Alfian, merasa miris dan memprihatinkan.

“Masa depan bangsa ini ada di tangan para pelajar,” ujarnya tegas ketika ditemui di SMA Muhammadiyah 3 Surabaya.

Menurutnya, pacaran adalah salah satu budaya yang nantinya akan merusak moral pelajar atau generasi mudanya.

“Harus ada pergerakan untuk merubah ini” tandasnya.

Berangkat dari rasa keprihatinan itu, lahirlah komunitas Pelajar Tanpa Pacaran. Komunitas yang digagas karena peduli pada krisis moral yang dihadapi oleh pelajar bangsa Indonesia.

Komunitas ini sudah diluncurkan sejak Desember 2016 lalu. Komunitas ini juga disahkan oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan MUI kota Surabaya.

“Dinas pendidikan dan MUI sangat mengapresiasi kegiatan ini” paparnya.

Alfian pun menjelaskan bahwa mulanya, komunitas ini hanyalah berbentuk sebuah gerakan, yakni gerakan tanpa pacaran. Namun, menyadari sifat gerakan yang hanya momentum, pria yang juga mahasiswa semester akhir Universitas Muhammadiyah Surabaya ini merubah konsepnya menjadi komunitas.

Berbagai aksi telah digagas oleh komunitas ini, tentunya yang berkaitan dengan penolakan terhadap aktifitas pacaran.

“Aksi ini kami namakan aksi peduli moral,” ungkapnya.

Aksi peduli moral, pada 14 Februari yang dikenal kawula muda sebagai hari kasih sayang atau valentines day. Baginya, valentines day justru hari kerusakan moral sedunia. Karena pada hari itu berbagai aktivitas pacaran terlihat di muka umum, seolah itu adalah hal yang lumrah dan kekinian.

“Itulah alasan kami menggagas aksi ditanggal tersebut” tuturnya.

Selain, menggagas aksi-aksi yang bersifat momentum, Pelajar Tanpa Pacaran juga memiliki program khusus untuk membina para anggotanya.

“Namanya KPK, ‘Kajian Pelajar Kekinian’” terangnya.

KPK ini, bertujuan untuk membina mental dan pemahaman agama para anggota maupun partisipan komunitas Pelajar Tanpa Pacaran. Uniknya lagi, komunitas ini juga mengadakan kelas konseling bagi aktivisnya.

“Tujuannya adalah sebagai kontrol” ucapnya.

Menurutnya, dengan adanya kelas konseling, maka anggota akan terbuka mengenai permasalahan-permasalahan dalam hidupnya. Sehingga dengan begitu dapat melakukan kontrol terhadap masalah yang dihadapi pun mudah. Konselor akan memberikan solusinya sesuai tuntunan Al Qur’an dan Hadits.

“Tentunya agar mereka tetap terjaga dalam koridor Islam,” katanya.

Hingga saat ini Komunitas Pelajar Tanpa Pacaran masih bergelut dalam memperluas jaringan. Upayanya adalah publikasi media sosial, rekruitment, pemilihan duta, dan prospek pendirian komunitas di sekolah sekolah lainnya. Karena untuk saat ini komunitas ini baru berdiri di Surabaya dan Sidoarjo.

“PR nya adalah menghancurkan paradigma pacaran itu budaya,” tegasnya.

Alfian berharap banyak sekolah yang mengapresiasi komunitas ini dan ikut menjadi bagian dari komunitas ini.

“Bagi yang ingin bergabung dengan Komunitas Pelajar TanpanPacaran, cara mendaftarnya sangat mudah, yaitu follow akun instagram pelajar tanpa pacaran, dan dm (direct message) untuk bisa bergabung,” pungkasnya. (yty/jurnalis warga)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)