Thursday, 29 June 2017

Kesalahan Komunikasi pada Anak

Kesalahan Komunikasi pada Anak

Foto: Ilustrasi (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Anak merupakan titipan oleh Yang Maha Kuasa kepada para orang tua, sebagai pengemban amanah sudah seharusnya orang tua menjaga buah hati mereka. Memegang amanah ini bukan perkara sepele, karena justru inilah tugas terberat bagi orang tua.

Orang tua sebagai pemegang amanah tentu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diembannya. Inilah fungsi penting keluarga dimana menjadi unit terkecil lingkungan sosialisasi anak, inilah tempat kembali, bercerita dan arena belajarnya. Lingkungan ini akan menjadi saksi tumbuh kembang anak. Anak yang betah akan rindu dan ingin segera kembali ke rumah, mereka memiliki harapan masing-masing tentang apa yang akan dilakukan di rumah. Anak akan terbuka dengan setiap kejadian yang ia lalui, dengan berbagai ekspresi untuk menceritakan pengalaman mereka kepada orang tua di rumah. Pendidikan anak juga tumbuh di lingkungan kecil ini, lingkungan yang paling dekat sejak anak terlahir di dunia.

Saat ini, banyak kita temui anak-anak yang bahkan untuk pulang ke rumah enggan. Bagaimana ia ingin pulang, jika memasuki rumah hanya akan membawa kedukaan. Dalam lain kisah, ada seorang anak yang sangat merindukan perhatian dari ayahnya. Ia mencoba beberapa cara agar berhasil menarik perhatian ayahnya, baiknya anak ini memilih cara-cara yang positif untuk mendapat apa tujuannya. Sampai ketika ia berhasil meraih nilai sempurna di salah satu pelajaran yang ia belum duga sebelumnya. Rasa bahagia itu ingin segera ia bagikan kepada ayahnya, ia pun mengabari ayahnya melalui layanan pesan. Tapi sayang, sang ayah tidak merespon dengan baik, ia hanya membalas “Maaf nak, ayah masih sibuk”. Lalu apa yang terjadi pada si anak?, mungkin sang ayah dan kita pun tidak akan menyana jika si anak setelah kejadian tersebut memilih untuk mengakhiri hidupnya. Alasannya sepele bukan, hanya karena pesan singkat yang bahkan mungkin maksud sang ayah sebenarnya tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran anak. Tapi nyawa sudah melayang, yang ada hanya rasa sesal.

Inilah kunci bahwa semua hubungan terletak pada komunikasi, antara pasangan, penjual ke pelanggan, termasuk pula orang tua ke anak, dan sebaliknya. Penggunaan komunikasi verbal berupa tulisan atau lisan sering digunakan untuk menyampaikan gagasan. Sementara komunikasi non-verbal berupa gerakan tubuh, isyarat, cara berbicara rupanya tidak kalah penting untuk mempengaruhi sukses atau tidaknya penyampaian informasi dalam komunikasi. Survei membuktikan bahwa masih banyak manusia yang bermasalah dalam kemampuan berkomunikasi. Padahal komunikasi memiliki peranan penting dalam lingkungan kerja, pendidikan, maupun keluarga.

Dalam keluarga, dimana darinyalah telah ditanamkan pengetahuan sejak bayi berada di kandungan. Pengetahuan ini yang akan membawa peran besar bagi masa depan anak kelak. Sebagaimana pendapat dari dr Karno Suprapto, ahli Obstetri dan Ginekologi mengatakan bahwa anak sudah bisa dididik sejak usia kandungan 12 minggu/3 bulan, pada usia itu bayi sudah tumbuh sempurna dan sudah bisa menerima rangsangan pada panca inderanya dari luar. Orang tua harus mempersiapkan diri untuk bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya.

Meminimalisasi kesalahan komunikasi harus diupayakan dengan mengetahui hakikat komunikasi. Kesalahan komunikasi orang tua berdampak pada hal yang kadang di luar dugaan kita. Dari hal kecil berupa jauhnya keterikatan batin antara orang tua dan anak, bahkan sampai pada tingkat bunuh diri. Kurang dekatnya hubungan antara orang tua dan anak berdampak buruk bagi keduanya. Tidak hanya untuk saat ini tapi bagi masa depan kedua pihak. Anak yang jauh hubungan batinnya dengan orang tua, kelak tidak akan memiliki respon yang baik dengan keadaan orang tua. Sehingga kita pun sering melihat dalam dunia nyata maupun sosial media ketika anak bersikap acuh atau menelantarkan orang tua.

Menurut Bunda Elly Risman, “Komunikasi yang salah mengakibatkan anak jadi BLAST. Jiwanya jadi kosong, ga pede, pemarah, dendam sama orang tuanya sendiri”. Betapa komunikasi ini menjadi sangat penting, komunikasi ini rupanya menjadi salah satu bekal penting yang wajib dipelajari oleh setiap orang tua.

Masa depan anak memang tidak bisa terlepas dari kontribusi orang tua, memperbaiki komunikasi verbal dengan menggunakan pemilihan kata, waktu, dan intonasi bisa dipelajari dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari bahkan sebelum memasuki kehidupan berumah tangga dengan pasangan. Komunikasi verbal memang lebih sering dipilih dalam menyampaikan informasi, meski komunikasi non verbal juga tidak kalah penting.
Konsep Diri

Saya memiliki teman yang memiliki penyakit keturunan dari orang tuanya, penyakit ini memang tidak terlalu berat, tapi mampu membuat ia bed rest selama sehari. Setelah dicek ternyata saat ia kecil pernah mendapat pesan bahwa “Memang kita sekeluarga itu sakit ini, karena orang tua kita juga begitu”. Ungkapan itu pun menjadi kenyataan, penyakit itu kambuh di saat-saat tertentu sampai kini teman saya menginjak usia 20 an.

Lain kisah ialah teman saya yang memiliki masalah finansial yaitu tidak bisa terlepas dari hutang. Setelah dicek ternyata saat ia kecil pernah melihat orang tuanya sengsara karena semua asset keluarga disita oleh bank karena tidak sanggup membayar hutang. Ia pun sangat membenci kejadian itu dan berkeyakinan bahwa hutang dan uang sumber masalah. Tapi yang terjadi pada orang tuanya malah kembali terjadi pada dia. Dia kesulitan mencari uang, dan hutang ada dimana-mana.

Darimanakah kejadian ini berlangsung, apakah ini takdir?

Ternyata hal-hal di atas ialah sebagian kecil contoh dari sesuatu yang dinamakan konsep diri. Bagi orang dewasa konsep diri berawal dari stimulus-stimulus yang mempengaruhi pikiran dan perasaan kita, stimulus tersebut berasal dari orang tua, guru, lingkungan, media, film, dan pelajaran atau semua hal yang seseorang dapatkan dari penglihatan dan pendengaran. Stimulus yang membawa pesan-pesan ini akan diteruskan oleh indra penglihatan dan pendengaran untuk diterima oleh otak/pikiran. Terjadinya repetition akan menguatkan tertanamnya pesan yang diterima. Hasil akhirnya ialah pada perasaan apakah sejalan dengan pikirannya.

Sebagaimana soft skill yang mampu mempengaruhi 80% tingkat kesuksesan seseorang. Stimulus yang telah menembus di tingkat perasaan ini juga mampu mempengaruhi konsep diri seseorang senilai 80%, dibanding stimulus yangmasiih dalam tahap pikiran.

Jadi inilah bahayanya, alur di atas hanya berlaku untuk orang dewasa karena telah memiliki berbagai pertimbangan di otak untuk menerima atau menolak stimulus yang ia dapat. Sementara untuk usia anak-anak, daya pikir belum terlalu matang sehingga stimulus langsung diteruskan ke tahap akhir yaitu perasaan. Sehingga otomatis stimulus tersebut menjadi konsep dirinya.

Disini peran orang tua menjadi sangat penting, pengawasan dan pemilihan stimulus saat usia anak-anak dengan meyaring pesan atau media yang akan anak dapat sehingga pesan negatif tidak secara otomatis menjadi konsep dirinya. Bukankah akan berbahaya jika ada pesan-pesan seperti kemiskinan, ketidaksehatan, dan yang lainnya seperti yang terjadi pada orang yang telah saya temui itu, otomatis masuk menjadi konsep diri anak yang untuk mengubahnya membutuhkan proses panjang.

Inilah pentingnya pemahaman komunikasi, karena komunikasi kita maupun lingkungan kepada anak-anak kita berpengaruh langsung kepada masa depannya. Jangan sampai kita salah memilih media maupun lingkungan yang justru berdampak buruk baginya.

Inilah pentingnya kenapa banyak pakar yang menegaskan agar setiap orangtua benar-benar memilih komunikasi bernilai positif baik verbal maupun non verbal pada anak-anak. Terlebih saat usia anak di bawah 6 tahun setelah kelahirannya, karena masa itu otak anak telah mencapai 90% ukuran otak dewasa. Setelah itu berarti anak akan mengandalkan otak sehingga bisa memfilter sendiri apa yang layak ia terima dan mana yang harus ditolak. (Siti Munajah/jurnalis warga)

Related posts

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *