Thursday, 23 November 2017

Taubat Dari Pembajakan Perangkat Lunak, Gunakan GNU/Linux

Taubat Dari Pembajakan Perangkat Lunak, Gunakan GNU/Linux

Foto : Ilustrasi DVD yang berisi perangkat lunak bajakan.(ist)

* Oleh Sutriman

Jakarta, Swamedium.com — Apakah Anda seorang pengguna sistem operasi Windows? Boleh saya mengetahui, apakah Anda memiliki lisensi atas sistem operasi Anda? Ataukah Anda menggunakan produk dari menge-crack (membajak)? Baiklah, Anda jawab sendiri. Kemudian, jika Anda menggunakan sistem operasi Windows, silahkan cek aplikasi yang Anda gunakan, mungkin ada beberapa aplikasi yang “seharusnya” berbayar? Dari mana Anda dapatkan? Download? Lagi-lagi, beserta trik crackingnya? Jika Anda ingin taubat, bolehlah lanjutkan membaca artikel ini.

Menggunakan produk bajakan di Indonesia memang sudah menjadi hal wajar, bukan hal tabu. Meski demikian, bukan berarti tindakan membajak itu dibenarkan. Dilihat dari sisi mana pun tidak ada alasan yang cukup bijak untuk membenarkan pembajakan. Mungkin, bisa dibayangkan ketika Anda sebagai pemilik produk tersebut, anda menjualnya, sedangkan orang lain dengan seenaknya menggunakan tanpa perlu membeli di Anda, bagaimana rasanya?

Sedikit berbicara tentang “api”. Kok api? Ya, kata peribahasa, tidak ada api maka tidak ada asap. Begitu juga dengan kebiasaan membajak di negeri ini. Alasan mendasar mengapa orang di Indonesia adalah karena 2 hal, pertama budged limit sementara harga software memang lumayan mahal (read: sesuai dengan fungsi dan fiturnya), kedua adalah karena di mindset orang Indonesia membajak itu adalah hal biasa, tak mengapa dan boleh-boleh saja. Terlebih hal itu didukung dengan beigitu banyak resource di Internet yang dapat dengan mudah didapat. Hanya dengan mendownload, melakukan beberapa trik, software yang berharga jutaan rupiah dapat langsung terinstal di perangkat komputer tanpa perlu membayar sepeser pun.

Pola pikir membajak adalah hal wajar sebenarnya didapat dari pengalaman hidup seseorang, dimulai dari masa awal mengenal komputer, sampai dengan mempelajarinya. Satu titik temu yang tidak boleh kita hiraukan adalah “sekolah”.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)