Tuesday, 25 July 2017

Media Sosial; Dimanfaatkan Sekaligus Ditakuti Jokowi

Media Sosial; Dimanfaatkan Sekaligus Ditakuti Jokowi

Foto: Ketakutan akan Revolusi Media Sosial. (Blogger @Anjond)

Oleh: Don Zakiyamani*

Banda Aceh, Swamedium.com — Fenomena media sosial (medsos) sebagai alat komunikasi lintas waktu dan tempat ternyata menjadi momok menakutkan. Tercatat beberapa pemerintahan otoriter terguling oleh kekuatan medsos. Kenyataan itu belakangan menjadi masalah bagi sebuah pemerintahan yang banyak melakukan blunder, padahal medsos memiliki kegunaan bagi penggunanya yang bijak.

Seperti halnya yang terjadi dengan Pemerintahan Jokowi. Cepatnya penyebaran informasi melalui medsos dianggap bahaya. Bila kita kembali ke belakang sebenarnya Jokowi merupakan pihak yang diuntungkan dengan adanya medsos.

Popularitas dan elektabilitas Jokowi sangat terbantu dengan adanya medsos. Jutaan pengguna medsos mengenal sosok Jokowi melalui medsos. Tim cyber dan buzzer Jokowi bekerja siang-malam demi popularitas dan elektabilitasnya. Itu fakta sejarah yang tak bisa dipungkiri.

Saat ini, Jokowi melalui kementerian terkait terkesan tak tahu balas jasa. Medsos yang membantunya malah satu demi satu akan diberangus, tak ada jaminan media online, cetak maupun elektronik yang idealis akan pula disingkirkan. Ini hanya mengulangi masa kelam republik ini, sebuah kemunduran.

Argumen-argumen pembenaran yang dilontarkan terkait medsos seolah menafikkan perang dunia maya pilpres 2014. Harus diakui perang ‘langit’ terjadi saat pilpres yang lalu, tak ada yang mampu mencegah tak ada pula solusi cerdas. Namun memblokir medsos juga bukan solusi arif nan bijak.

Pengguna medsos yang bijak masih sangat banyak, pengguna medsos yang menyadari pentingnya interkomunikasi untuk berbagi ilmu dan hal lain yang bermanfaat. Sikap berlebihan pemerintah menunjukkan rezim tak siap menerima kenyataan bahwa pencitraan tak selamanya berhasil bila tak dibarengi kerja nyata.

Kebenaran akan selalu muncul bahkan di saat yang tak disangka, dengan pelaku yang tak diperhitungkan pula. Menutupi kebenaran dengan memberangus medsos merupakan bentuk kepanikan, muslihat childish yang dengan mudah dapat kita tangkap tujuannya.

Bila terjadi misusing medsos bukan berarti medsosnya yang dipersalahkan. Apakah ketika pemerintah tidak menjalankan amanah Pancasila kemudian Pancasila harus diblokir dalam segala lini. Bukankah manusianya yang salah bukan ajaran, doktrin, dogma dan nilai Pancasila yang salah.

Boleh jadi, ada pengguna medsos yang tak bijak sehingga medsos menjadi mudharat, akan tetapi boleh jadi sebaliknya pun demikian. Dakwah dan penyampaian kebenaran lebih efisien dan efektif menggunakan medsos, tak terhalang jarak yang selama ini membatasi.

Karenanya peran edukasi dan regulasi sangat krusial sehingga medsos benar-benar bernilai manfaat bukan mudharat. Memberangus medsos hanya akan menambah persoalan baru, ini kemunduran yang tidak bisa diterima. Bagaimana mungkin bangsa ini berkompetisi dengan bangsa lain bila jalur informasi dan komunikasi dihentikan karena egosentris penguasa. (*)

*Penulis adalah Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)

Related posts

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *