Saturday, 23 September 2017

INAIS Bogor Gelar Pendidikan Islam Anak Usia Dini

INAIS Bogor Gelar Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Foto: Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor menggelar seminar Pendidikan Islam Anak Usia Dini.(Dok. Forjim)

Bogor, Swamedium.com – Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor menggelar seminar Pendidikan Islam Anak Usia Dini dengan tema “Kebijakan Dinas Pendidikan dalam Pengembangan Profesionalisme Guru Anak Usia Dini di Kabupaten Bogor”.

Seminar yang diikuti sekitar 300 peserta itu menghadirkan tiga orang pembicara, yakni Dr Indrani Dewi Anggraeni (pendidik dan pemerhati anak dari SEAMEO QITEP Language Jakarta), Iwan SPd MM (penilik luar sekolah Kecamatan Cibungbulang), dan Dian Rodiana SPd (ketua HIMPAUDI Kecamatan Cibungbulang).

Seminar yang dipandu oleh Tita Hasanah, M.Si, ketua Program Studi PIAUD FITK INAIS, berlangsung di Kampus INAIS Gunung Menyan, Pamijahan, Bogor, Sabtu (19/8).

Dalam pemaparannya Iwan menyebutkan, anak usia dini adalah anak-anak dalam rentang usia 0-6 tahun. Anak dalam rentang usia ini merupakan golden age atau usia emas.

“Karena itu anak-anak harus menerima pendidikan yang berkualitas dan untuk itu diperlukan guru yang berkualitas pula,” kata Iwan.

Sayangnya, lanjut Iwan, saat ini dari sekitar 588.475 jumlah guru PAUD di Indonesia, hanya sebagian kecil yang mengantongi ijazah sarjana (S1), sebagian besar lulusan SLTA atau SMA. Dan bahkan tak sedikit yang hanya lulusan SMP. Padahal, kata Iwan, menurut UU No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pendidikan guru minimal harus sarjana (S1).

“Di Australia dan Selandia Baru, guru PAUD cukup berijazah D3, asal dengan pendampingan dan mengikuti pelatihan terus-menerus,” ungkap dia.

Menurut Iwan, anak-anak PAUD tidak boleh diajari membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Dikatakan Iwan, pendidikan atau cara belajar anak usia dini dilakukan dengan bermain dan bernyanyi.

“Anak-anak tidak boleh dipaksa membaca, menulis dan berhitung,” tutur Iwan.

Lebih lanjut Iwan mengemukakan, karakteristik anak usia dini antara lain; berpikir konkret berdasarkan makna, tidak abstrak; belajar banyak hal melalui pengalaman mereka di rumah; belajar banyak hal dengan seluruh tubuh mereka; senang merasakan, menyentuh, bergerak, menjelajah, dan membau.

Selain itu, kata Iwan, juga sering menggunakan bahasa orang dewasa karena itu kita mesti hati-hati karena anak usia dini merupakan masa-masa mengikuti; suka menikmati mendengarkan dan membaca cerita.

“Seringkali mudah mengalihkan perhatiannya ketika sedang mengerjakan tugas, memikirkan diri sendiri tapi di saat yang bersamaan terpengaruh oleh orang lain,” ujar Iwan.

Selain itu, menurut Iwan, karakteristik spiritual anak usia dini yakni memiliki kesadaran yang terus berkembang bahwa Tuhan adalah nyata, cenderung memiliki konsep ketuhanan yang sangat sederhana, dan memiliki kesiapan untuk menerima apa yang dikatakan tentang Tuhan.

Karakteristik lainnya, kata Iwan, anak-anak dapat mengembangkan sikap menuruti perintah dan larangan Tuhan.

“Karena itu kepada mereka (anak-anak), ceritakan kisah-kisah nabi dan kisah-kisah dari kitab suci,” jelas dia.

Sementara itu, Dr Indrani menyebutkan, tujuan pendidikan dalam Islam adalah hidup bahagia di dunia dan bahagia akhirat.

“Pendidikan dalam Islam membebaskan manusia dari berbagai belenggu kehidupan, mengantarkan umat manusia untuk hidup damai dan bahagia, selamat hidup di dunia dan akhirat kelak,” papar dia.

Dikatakan Dr Indrani, guru PAUD haruslah berilmu, sebab dengan ilmu bisa mengetahui psikologi anak, misalnya mengapa anak tidak mau menyanyi, harus dicari tahu mengapa sebabnya, dan lain-lain.

“Anak yang ceria pasti dicontohkan oleh orangtua dan gurunya,” tukasnya.

Menurut Dr Indrani, guru memiliki fungsi sebagai pengganti orangtua di sekolah, karena itu, kata dia, meski ada interaksi anak dengan guru di sekolah yang berkualitas, misalnyanhanya 2 jam, tapi interaksi itu sangat bermakna.

“Materi pendidikan anak dalam Islam meliputi keimanan, ibadah,dan akhlak.
Menurut Indrani, anak usia dini merupakan usia emas, usia yang sangat mendasar bagi perkembangannya,” kata Dr Indrani.

Selain itu, kata Dr Indrani, perkembangan anak usia dini sangat luar biasa, baik kognitif, afektif maupun psikomotor. Dr Indrani menyampaikan, biarkanlah anak berimajinasi. Kalau anak menggambar gunung berwarna merah, misalnya, biarkan.

“Anak usia dini jangan diajarkan hal-hal yang sulit seperti belajar bahasa Inggris, misalnya. Kasihan otaknya. Ajarkan saja bahasa Sunda atau bahasa Indonesia yang memang sudah menjadi lingkungannya. Anak tidak perlu menulis. Kalau salah ketika menggambar, misalnya, jangan dimarahi. Anak-anak harus belajar sambil bermain,” beber Dr Indrani.

Untuk diketahui, INAIS saat ini memiliki tiga Fakultas yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, serta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. (*/ls)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)