Friday, 24 November 2017

Soal Nawacita Pendidikan Karakter, KH Cholil Ridwan: Jangan Sekuler

Soal Nawacita Pendidikan Karakter, KH Cholil Ridwan: Jangan Sekuler

Foto: diskusi bertajuk Kebijakan Pendidikan Nasional dan Kepentingan Umat Islam, di Gedung MUI. (Iqlima/swamedium)

Jakarta, Swamedium.com – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir menerangkan tentang nawacita Presiden Jokowi bahwasanya pondasi pendidikan adalah pendidikan karakter yang ditanamkan sejak jenjang sekolah dasar. Namun Mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, KH Cholil Ridwan menyayangkan terbatasnya waktu belajar pendidikan agama di sekolah-sekolah, baginya pendidikan agama adalah dasar dari pendidikan karakter yang dimaksud Jokowi.

“Sejak merdeka, sistem pendidikan kita diarahkan pada sistem pendidikan sekuler. Sekarang lihat di sekolah-sekolah, jam belajar pendidikan agama paling lama 2 jam, satu kali dalam seminggu. Padahal karakter itu dibangun dari agama,” kata KH Cholil, saat diskusi bertajuk Kebijakan Pendidikan Nasional dan Kepentingan Umat Islam, di Gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (23/8).

Mantan Salah Satu Ketua MUI itu menegaskan bahwa pendidikan nasional jangan diarahkan kepada pendidikan sekuler. Ia menjamin setiap orang yang dekat dengan agamanya, terlebih agama Islam pasti memiliki jiwa nasionalis yag tinggi. Hal tersebut lah yang mampu membawa pendidikan nasional kepada pendidikan karakter yang dimaksud.

“Jelas sekali pendidikan nasional adalah pendidikan dalam rangka sekulerisasi Islam secara masif. Umat islam harus jadi orang yang sholeh, beragama. Orang yang Islami pasti nasionalis,” ujar KH Cholil.

Pimpinan Pondok Pesantren di Sukabumi itu menjamin sikap nasionalisme bisa lahir dari karakter yang sholeh. Ia langsung mengambil contoh dari Rasulullah SAW sebagai tokoh yang berkali-kali memimpin peperangan .

“Nabi Muhammad dan para sahabat sangat nasionalis. Coba lihat, mereka rela berjihad, angkat senjata untuk membela daerahnya. Sama dengan undang-undang 1945 itu menggambarkan muslim yang sholeh, ideologis, pasti nasionalis” lanjut KH. Cholil.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)