Friday, 24 November 2017

Penangkapan Asma Dewi dan Matinya Idealisme Mahasiswa

Penangkapan Asma Dewi dan Matinya Idealisme Mahasiswa

Foto: Asma Dewi (kerudung merah muda) di sel tahanan Rutan Polda Metro Jaya. (ist)

Oleh: Dr. Ahmad Sastra*

Jakarta, Swamedium.com — Mencermati ditangkapnya Asma Dewi, seorang ibu rumah tangga asal Aceh, yang fotonya saat di dalam penjara sempat tersebar luas, hingga masuk ke ponsel saya, cukup menarik perhatian saya. Meski saya sama sekali tidak mengenalnya. Menarik, karena selain sudah tidak muda lagi, Asma Dewi adalah seorang ibu rumah tangga.

Dalam kopian surat perintah penahanan, tertulis data bahwa Asma Dewi lahir 19 Maret 1965, berarti telah berusia 52 tahun. Usia yang tidak lagi muda. Ia terjerat UU ITE tentang ujaran kebencian yang kini telah menjadi senjata utama rezim.

Sebagai aktivis mahasiswa muslim tahun 1998 yang sempat menyaksikan jatuhnya rezim Soeharto dan saya harus mendekam dalam penjara, saya ikut empati merasakan apa yang sedang dirasakan ibu Asma Dewi. Saya kelahiran 08 Maret 1976 [bulannya sama ya], saat itu saya baru kuliah semester 2. Bahkan jika hari ini saya dipenjara lagi, usia saya masih jauh di bawah Ibu Asma Dewi. Saat itu saya di dalam penjara yang sempit, gelap, pengap dan tidak mendapatkan cahaya matahari sama sekali. Entah kalau sekarang, apakah penjara itu masih seperti itu kondisinya.

Saat itu saya masih muda dan mahasiswa, jadi saya paksakan untuk bisa menikmati risiko perjuangan itu. Tapi jika kondisi ini dialami oleh seorang ibu rumah tangga yang sudah tidak muda lagi, punya anak dan suami, mungkin apa yang dirasakan ibu Asma Dewi menjadi sangat berbeda dengan apa yang saya rasakan saat itu.

Dengan tulisan ini saya hanya ingin menggugah kembali kepada mahasiswa Islam. Jika yang dipenjara adalah ibu-ibu setengah baya, lantas mahasiswa Islam pada pergi kemana. Mana idealisme kalian sebagai agen perubahan dan perjuangan kebenaran. Apakah kalian tidak malu, ada seorang ibu-ibu aktivis dipenjara, sementara kalian terlalu enak menikmati hedonisme duniawi, sibuk dengan ponsel di tangan, sambil sesekali tertawa sendiri. Ironis.

Sebagai aktivis mahasiswa Islam masa orde baru, saya terus memantau dan mencermati pergerakan mahasiswa muslim akhir-akhir ini, ada keprihatinan yang mendalam. Kini banyak mahasiswa yang bangga tampil di tv-tv menghadiri berbagai acara hiburan, sambil sesekali tepuk tangan ketika disuruh tepuk tangan. Sebagai dosen, saya melihat mahasiswa di kampus juga banyak yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri, tidak banyak peduli terhadap permasalahan umat. Idealisme mahasiswa muslim telah mati, sudah saatnya dikubur. Masih adakah sisa-sisa mutiara mahasiswa muslim sejati.

Pages: 1 2 3 4 5 6

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)