Wednesday, 18 October 2017

Kebijakan HET Beras yang Tidak Pro Petani Mulai Berlaku Senin

Kebijakan HET Beras yang Tidak Pro Petani Mulai Berlaku Senin

HET beras berlaku efektif mulai Senin besok.(nael)

Jakarta, Swamedium.com – Meski kebijakan harga eceran tertinggi (HET) beras dinilai tidak pro petani, kebijakan itu akan efektif berlaku mulai Senin (25/9). Masa penyesuaian harga beras sudah selesai, sehingga Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengingatkan para pedagang agar mematuhinya karena tidak akan ada toleransi lagi bagi yang melanggar.

“Mulai hari senin sudah menerapkan dan menyediakan beras medium dan beras premium sesuai HET,” ujar Enggar di Kementerian Perdagangan, yang dikutip KONTAN, di akhir pekan ini.

Sebenarnya, HET beras telah ditetapkan berlaku pada 1 September 2017. Namun, masih terdapatnya stok lama, sehingga pedagang diberi waktu untuk penyesuaian.

Menurut Enggar, masa penyesuaian tersebut sudah selesai. Mulai Senin, Kemendag akan melakukan pemeriksaan didampingi Satuan Tugas (Satgas) Pangan. Nantinya juga akan diinformasikan kepada Dinas Perdagangan di daerah untuk melakukan pengecekan di pasar.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) no 57 tahun 2017 tentang HET beras disampaikan, apabila pedagang melanggar ketentuan HET bisa mendapatkan sanksi administratif berupa pencabutan izin, setelah diberi surat peringatan tertulis paling banyak dua kali.

Selain memastikan harga, pemeriksaan juga akan memastikan stok beras di pasar. “Kalau kurang, kita akan cek dan mengirimkan stok,” terang Enggar.

Seperti diketahui, penetapan HET beras kualitas medium untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Rp 9.450 per kilogram dan Rp 12.800 untuk jenis premium.

Wilayah Sumatera, tidak termasuk Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan untuk beras kualitas medium Rp 9.950 dan premium 13.300 per kilogram. Untuk Maluku, termasuk Maluku Utara dan Papua, HET beras kualitas medium Rp 10.250 per kilogram dan premium Rp 13.600.

Sebelumnya, Ketua Gapoktan Mitra Tani Desa Tambakjati, Kecamatan Patokbeusi, Manaf Hadi Permana mengatakan, HET beras ini tidak berpihak kepada petani. Sebab, angkanya masih terlalu kecil bila dikalkulasikan dengan biaya produksi saat ini. Menurutnya, untuk HET beras medium seharusnya Rp 10.500 per kg, bukan Rp 9.450 per kg. Sementara, harga beras premium semestinya Rp 13.500 per kg, bukan Rp 12.800 per kg.

“Kami (petani) tidak setuju dengan HET beras ini. Tetap saja kebijakan pemerintah ini, tidak pro-petani,” ujar Manaf dilansir Republika.co.id, Selasa (19/9).

Menurut Manaf, saat ini biaya produksi yang dikeluarkan petani cukup tinggi yakni antara Rp 3-4 juta per hektare. Belum lagi, bila ada serangan hama maka akan ada penambahan biaya, untuk pembelian pestisida. Akan tetapi, setelah panen harga gabahnya murah(*/maida)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)