Saturday, 20 October 2018

Taklim Jurnalistik, Antara ‘Keterpaksaan’ dan Kebutuhan

Taklim Jurnalistik, Antara ‘Keterpaksaan’ dan Kebutuhan

Foto: Taklim Jurnalistik (Taktik) Community wilayah Jawa Tengah dan DIY. (Dok. Taktik)

Jogyakarta, Swamedium.com – Taklim Jurnalistik (Taktik) Community saya kenal sekira sebulan yang lalu. Sebelum memutuskan bergabung di grup WhatsApp untuk wilayah Jateng-DIY, saya terlebih dahulu mencari-cari informasi tentang komunitas ini di internet. Akhirnya saya putuskan untuk bergabung dan menghadiri Rakorwil Taktik Jateng-DIY pada 30 Desember 2017.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhat al-Musytaqin menyebutkan tiga jenis gerak, yaitu gerak dengan kehendak (harakah iradiyah), gerak natural (harakah thabi’iyah), dan gerak dengan paksaan (harakah qasriyyah).Gerak dengan kehendak berarti diiringi dengan perasaan dan pengetahuan, sebaliknya gerak natural berarti tanpa diiringi perasaan dan pengetahuan. Sementara gerak dengan paksaan ialah gerakan yang terjadi disebabkan faktor eksternal.

Kedatangan saya ke acara Rakorwil Taktik Jateng-DIY itu mungkin tergolong pada harakah iradiyah. Ada perasaan dan pengetahuan yang mendorong saya untuk menghadirinya. Akan tetapi tak dapat dipungkiri bahwa penunjukkan saya sebagai ketua wilayah Jateng-DIY merupakan bentuk harakah qasriyyah, karena paksaan faktor eksternal. Paksaan tidak selalu berirama negatif dan buruk.

Berkenaan dengan ini, saya merasa seperti dipaksa mengarungi jalan yang lurus. Mengapa? Sebab komunitas menentukan sikap. Bergaul dengan tukang minyak wangi akan menularkan harum wewangian, sebaliknya tukang pandai besi terkadang menebarkan percikan api yang panas.

Komunitas Menentukan Sikap
Menyimak pengalaman-pengalaman yang dibagikan di grup Taktik Jateng-DIY, saya semakin merasa perlu banyak belajar. Ada di antara mereka yang karyanya berkali-kali terpampang di koran dan majalah, bahkan ada pula yang telah menerbitkan buku. Sementara saya? Masih sangat pemula dalam hal kepenulisan.

Namun kemudian Buya Hamka memberikan nasihat melalui Tasawuf Modern dengan menyatakan, “Pergaulan mempengaruhi didikan otak. Pergaulan membentuk kepercayaan dan keyakinan. Oleh karena itu, maka, untuk kebersihan jiwa, hendaklah bergaul dengan orang-orang yang berbudi, orang yang dapat kita kutip manfaat daripadanya.”

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)