Monday, 18 June 2018

Program Pengentasan Kemiskinan Pemerintah Baru Sebatas ‘Kosmetik’

Program Pengentasan Kemiskinan Pemerintah Baru Sebatas ‘Kosmetik’

Foto. Kemiskinan di perkotaan perlu mendapat perhatian dalam program pengentasan kemiskinan karena 60% penduduk tinggal di perkotaan.(ist)

Jakarta, Swamedium.com – Kalangan ekonom mendesak pemerintah membuat program pembangunan berkelanjutan untuk mengentaskan kemiskinan. Pengentasan kemiskinan saat ini dinilai belum menyentuh akar permasalahan atau baru sebatas bagi-bagi bantuan, sehingga dalam waktu singkat akan meroketkan kembali angka kemiskinan.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk miskin Indonesia turun 1,19 juta dari 27,77 juta pada Maret menjadi 26,58 juta penduduk pada September 2017.

Terkait hal tersebut, Peneliti Institute for Developtment Economic and Finance (INDEF) Eko Listyanto mengatakan, penurunan tingkat kemiskinan ini bisa dianggap sebagai kado awal tahun bagi pemerintah. Namun, dia menyangsikan jika tingkat kemiskinan ini bisa berkesinambungan dalam waktu lama. Pasalnya, pengentasan kemiskinan ini tak menyentuh hingga sisi fundamentalnya.

Menurut dia, penurunan tingkat kemiskinan kemarin lebih banyak dipengaruhi oleh pengendalian inflasi dan juga kebijakan anggaran pemerintah. Kebijakan ini sebetulnya baik-baik saja, tetapi berisiko tinggi. Sebab, andaikan inflasi tak terkendali dan pemerintah tak punya anggaran lagi untuk sebar-sebar bantuan, ia yakin tingkat kemiskinan Indonesia bisa meroket tajam lagi.

“Secara umum, pendorong dari adanya penurunan tingkat kemiskinan ini karena pemerintah memberikan fasilitas, bukan pemerintah menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan membuat angka kemiskinan turun permanen,” jelas dia, di akhir pekan yang dikutip CNNindonesia.

Eko melanjutkan, tingkat kemiskinan tahun ini kian rentan seiring risiko inflasi yang juga makin mengintai. Sebagai contoh, berdasarkan data Desember 2017, bahan makanan mengalami inflasi 2,26 persen secara bulanan (month-to-month) yang dikhawatirkan bisa merembet ke bulan-bulan berikutnya.

Terlebih, saat ini bahan makanan merupakan komponen utama pembentuk garis kemiskinan. Beras, telur ayam, dan daging ayam, misalnya, sudah menyumbang 25,79 persen dari garis kemiskinan pedesaan di bulan September.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)