Saturday, 18 August 2018

Penumpang Gelap Reformasi 98, Penyebab Pribumi Kehilangan Kedaulatan

Penumpang Gelap Reformasi 98, Penyebab Pribumi Kehilangan Kedaulatan

Foto: Presiden GEPRINDO Bastian P Simanjuntak (Geprindo)

Oleh: Bastian P Simanjuntak*

Jakarta, Swamedium.com – Keluarnya inpres no 26 tahun 1998 yang di tandatangani oleh presiden BJ Habibie tentang larangan penggunaan istilah pribumi dan non pribumi dalam penyelenggaraan pemerintahan,  merupakan keputusan liar sebab inpres tersebut tidak tertulis dalam enam tuntutan reformasi yang digadang-gadang oleh Mahasiswa. Ada “Penumpang Gelap” yang memboncengi gerakan Mahasiswa, banyak yang tidak sadar akan hal ini. Akibat inpres No 26 Tahun 1998 Negara Republik Indonesia tidak lagi mengakui kedaulatan Pribumi atas bangsa lain yang hidup di wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. Sebagai bangsa pemenang Pribumi sejatinya memiliki hak kemenangan, jadi tuan di Negeri sendir, berkuasa atas wilayah dan atas bangsa lain yang hidup di wilayah NKRI.  Saya yakin Habibie tidak menyadari dampak lebih jauh dari terbitnya Inpres tersebut yang akhirnya selama 20 tahun pribumi jadi penonton, haknya dipasung dengan inpres no 26.

Pribumi bukan lagi sebagai bangsa pemenang yang berkuasa atas wilayah NKRI dan atas bangsa lain yang hidup di wilayah NKRI. Pribumi sudah jadi warga negara biasa yang disamakan haknya dengan bangsa-bangsa lain asalkan bangsa lain itu sudah menjadi WNI . Tidak ada lagi kebijakan proteksi atau perlindungan untuk pribumi,  akhirnya hak-hak pribumi di libas oleh bangsa lain yang memiliki modal dan jaringan yang lebih kuat.  Peluang untuk memiliki tanah, rumah, memanfaatkan sumber daya alam, peluang ekonomi dalam bidang perdagangan,  jasa, kontraktor mitra pemerintah, manufaktur, di sapu habis oleh pemilik modal besar yang mayoritas non pribumi. Indikatornya 100 orang terkaya di Indonesia mayoritas non pribumi meskipun populasi mereka hanya 5% dari total penduduk Indonesia. 

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)