Thursday, 21 June 2018

Membongkar “Festival Material” dalam Tradisi Lebaran

Membongkar “Festival Material” dalam Tradisi Lebaran

Foto: Tony Rosyid. (dok. pribadi)

Oleh: Tony Rosyid*

Jakarta, Swamedium.com — Lebaran di Indonesia dijadikan sebagai festival mudik. Perantau pulang kampung. Kota-kota besar sepi. Jalanan lengang. Suasana di kampung heroik, gagap gempita, dan terasa sahdu.

Distribusi ekonomi terjadi. Uang mengalir dari kota ke desa. Para perantau alirkan jutaan rupiah. Bahkan puluhan hingga ratusan juta. Bagi-bagi angpao dan pesta keluarga. Makanan berlimpah menghiasi tradisi halal bihalal.

Wisata dan kuliner diserbu. Mall sesak pengunjung. Semua makan. Semua belanja. Setiap orang punya anggaran. Lumayan besar. Lebih besar dari uang zakat dan angaran infaq. Apa saja laku. Uang seperti tak ada harganya. Dihambur-hamburkan.

Festival materi seolah jadi kompensasi lapar-dahaga selama sebulan puasa. Saatnya lebaran. Memanjakan diri dengan kesenangan oral-material.

Disisi lain, spirit Ramadhan terlupakan. Nilai-nilai puasa yang diperjuangkan saat Ramadhan terabaikan. Tidakkah puasa adalah perjuangan manusia untuk mengurai maindset material? Keluar dari dominasi materialistik? Festival lebaran lalu menghancurkannya.

Makan dan minum itu simbol material. Dihindari dalam puasa agar manusia bisa jaga jarak. Lalu secara obyektif mampu lakukan evaluasi. Keluar dari dominasi dan penetrasinya.

Materi itu sering jadi magnet nafsu dan sumber ambisi. Di obyek inilah kepentingan manusia sering dibenturkan. Kedzaliman dan saling menguasai terjadi akibat berburu materi. Konflik muncul karena perebutan sumber materi. Stop! Begitulah pesan puasa.

Puasa memberi pesan agar manusia tidak rakus. Tapi proporsional. Kelaparan diharapkan mampu menyadarkan manusia, lalu bersedia merubah mindsetnya tentang materi. Dia berkuasa, bukan dikuasai. Manusia jadi the winner atas materi, bukan the loser. Bukan pula pecundang.

Puasa bukan sekedar memenuhi hasrat dan tugas normatif (fiqih), tapi lebih pada upaya menangkap pesan yang substantif. Sebuah pergeseran mindset secara revolusioner dari material ke spiritual. Disinilah moralitas itu bersumber.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)