Tuesday, 18 September 2018

Dimensi Politik Memalukan di Istana Bogor pada Hari Raya

Dimensi Politik Memalukan di Istana Bogor pada Hari Raya

Foto: Pradipa Yoedhanegara. (Dok. pribadi)

Oleh: Pradipa Yoedhanegara*

Sepinggan, Swamedium.com — Open House yang dilakukan oleh presiden jokowi pada hari pertama perayaan idul fitri 1439 H yang dilaksanankan di istana bogor tercoreng, oleh prilaku memalukan dan tidak terpuji para pendukung rezim yang menyoraki kedatangan Gubernur DKI Anis Rasyid Baswedan yang ingin bersilaturahmi dengan presiden jokowi.

Momentum hari raya seharusnya dijadikan sebagai ajang untuk saling bermaaf-maafkan oleh semua pihak karena dengan perayaan idul fitri tersebut seluruh umat manusia di muka bumi ini kembali kepada kesucian dirinya yaitu menjadi fitrah seperti orang yang kembali baru dilahirkan didunia ini.

Sorakan yang dilakukan oleh para pendukung presiden jokowi di istana bogor, terhadap Gubernur DKI Anis Rasyid Baswedan, pada hari raya idul fitri adalah sesuatu tindakan tidak terpuji dan sangat mempermalukan kita semua sebagai sebuah bangsa, yang sedang merayakan hari kemenangan bagi umat islam.

Jelas sudah prilaku memalukan tersebut sepertinya sudah menjadi budaya bagi para pendukung rezim, sebagai akibat dari kekalahan ahok pada pilkada ditahun yang lalu, dan sebagai ketakutan para pendukung rezim apabila Anis Rasyid Baswedan berpasangan dengan Prabowo Subiyanto untuk maju sebagai penantang presiden Jokowi pada pilpres di tahun 2019.

Prilaku memalukan yang terjadi di istana negara tersebut, seharusnya dapat dicegah oleh pihak paspampres atau pun pihak keamanan lainnya dengan memberikan teguran keras terhadap orang ataupun kelompok yang meneriaki Gubernus Anis. Karena dampak dari cemoohan mereka terhadap Gubernur Anis pada akhirnya semakin membuat tuan presiden tergerus citranya dihadapan publik.

Diera digital society seperti saat ini, prilaku seperti itu seharusnya dapat dihindari, sebab pada akhirnya publik akan menilai para pendukung rezim saat ini bukanlah orang-orang terpuji yang memiliki jiwa dan karakter kenegarawanan karena menjadi manusia pembenci dan selalu menyimpan dendam serta permusuhan di saat seluruh umat muslim diseluruh dunia bermaaf-maafan dan saling bersilaturahmi.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)