Friday, 20 July 2018

Islam Nusantara Perlu “Nabi Nusantara”

Islam Nusantara Perlu “Nabi Nusantara”

Foto: Wartawan senior, Asyari Usman. (Facebook)

Oleh: Asyari Usman*

Jakarta, Swamedium.com — Saya sarankan kepada para penggagas dan pendukung konsep Islam Nusantara (Lamtara) supaya tidak serba tanggung kalau mau membuat “agama baru”. Jangan sebatas anti-Arab, anti-janggut, anti-jubah, anti-sorban, anti-istilah (bahasa) Arab, dlsb. Buatlah Islam Nusantara yang “kaffah”. Yang sempurna. Sama sekali tidak ada unsur Arab-nya.

Harus betul-betul lepas dari kearaban. Barulah bisa disebut Islam Nusantara atau Lamtara. Termasuk jangan pakai Nabi Muhammad SAW. Sebab, Baginda yang dielu-elukan oleh kaum muslimin ini dan juga dimuliakan oleh Allah SWT itu, adalah orang Arab. Beliau berbahasa Arab. Berjubah dan bersorban.

Jadi, kalau mau menciptakan “agama baru”, jangan tanggung-tanggung. Anda perlu sosok “nabi” sendiri, kitab sendiri, tata cara ibadah sendiri, semua sendiri. Supaya asli betul sebagai Islam Nusantara. Jangan ikut Nabi Muhammad lagi karena begitu disebut “Nabi Muhammad”, pasti orang akan ingat dengan “Islam” saja. Nabi Muhammad tidak diutus untuk menyampaikan konsep “Islam Nusantara”.

Mengapa? Karena sejak awal kenabian beliau, Muhammad hanya menggunakan kata “islam” untuk sebutan agama yang diridhoi Allah. Sekali lagi, Baginda diutus untuk “Islam” bukan untuk “Islam Nusantara”.

Dengan demikian, mutlak Anda perlu memunculkan Nabi Nusantara. Dan Anda perlu cepat mendeklarasikan Nabi Nusantara agar bisa segera disosialisasikan. Kemudian sang Nabi Nusantara itu haruslah mampu membuat “kitab suci Lamtara”. Sebab, kalau masih menggunakan al-Quran sebagai pedoman, maka menjadi batallah kenusantaraan Islam Nusantara yang Anda inginkan.

Kalau para pengikut Lamtara masih bernabikan Muhammad SAW, sangatlah aneh. Berarti nanti “terpaksa” mengikuti arahan orang Arab. Bukankah Nabi Muhammad ada meninggalkan hadits? Nah, hadits-hadits dari Baginda itu diriwayatkan oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab. Kemudian, buku-buku tentang hadits banyak pula ditulis oleh orang Arab. Kitab-kitab karangan para ulama besar, semua dalam bahasa Arab.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Comments on swamedium (2)

2 Comments

  1. Anonymous

    Islam nusantara, secara maknafiyah sudah mengacu agama baru, dalam narasi petani brtanya tentang islam nusantara, kiyai menjawab islam ibarat ketela, yang disajikan menurut adat suatu bangsa, padahal islam mengubah akhlak manusia, dari akhlak kurang baik keakhlak yang baik, contoh islam pertama kali dibelahan bumi arab, yang notabene akhlaknya sudah melenceng jauh dari kebaikan. Apa belum sempurna islam yang dibawa nabi hingga perlu adanya islam nusantara?

    Reply
  2. Anonymous

    Aku takut bila nanti di tanya malaikat apa agama mu, nanti lidahnya bilang islam nusantara, bisa repot mas broo, digebukin maikat, malaikat bilang, emang nabi muhamad SAW mensyariatkan islam nusantara?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)