Tuesday, 11 December 2018

PAN Galau Pilih Prabowo atau Jokowi

PAN Galau Pilih Prabowo atau Jokowi

Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan. (ist)

Jakarta, Swamedium.com — Pengamat politik Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti mengkritisi ketidakjelasan sikap PAN setelah pertemuan dengan Jokowi pada Selasa (7/8) sore. Menurutnya lebih baik PAN beroposisi ketimbang bergabung ke koalisi Jokowi yang sudah kuat.

“Adalah juga penting untuk tetap menjaga posisi oposisi yang kuat,” ujar Ray kepada wartawan Selasa (7/8) malam.

Menurutnya, sikap oposisi PAN ini, merupakan bagian dari memperkuat sistem dan kultur demokrasi Indonesia. Peran penguasa harus diimbangi oleh oposisi yang bernas. Ray melanjutkan, dalam posisi inilah keberadaan PAN jadi berarti.

“Saya pribadi merasa langkah PAN ini kurang pas. Menguatkan koalisi Jokowi yang memang sudah kuat akan berdampak pada ketidakseimbangan komposisi Demokrasi,” katanya.

Bagaimanapun, menurutnya pertemuan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dengan Jokowi, telah memunculkan dugaan kemungkinan PAN masuk ke koalisi Jokowi. Sinyal ini, klaim Ray sebenarnya tidak disulit ditangkap, khususnya setelah koalisi Gerinda dan Demokrat terlihat lebih akrab. Dengan akrabnya Gerindra dan Demokrat, menurut Ray, PAN terlihat sebagai partai penggembira dalam koalisi itu.

“Dan jika dari pertemuan itu, akhirnya PAN merapat ke koalisi Jokowi kesemarakan pilpres akan berkurang,” ujar Ray.

Selain itu, tambah Ray, masalah utamanya bukan saja soal kesemarakan. Soal posisi yang dibangun PAN sejak dari awal pun akan jadi kritik dari publik. Sekalipun PAN menempatkan satu kadernya di kabinet, tapi rekam jejak partai justru lebih banyak berbeda sikap dengan pemerintahan Jokowi. Saat yang sama, menurut Ray, aktifnya Amien Rais dalam berbagai kegiatan yang menyatakan sikap protes, kritis bahkan kampanye ganti presiden, mempertebal pandangan ini.

“Saya rasa, secara langsung sikap politik ini mewabah ke tingkat basis. Dan jika pada akhirnya PAN merapat ke koalisi Jokowi, itu membutuhkan penjelasan etis, moral dan tentu saja politis,” katanya lagi.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (1)

1 Comment

  1. Anonymous

    There isn’t surprise if the National Mandatory Party do like that, because position in legislative body as mid level. So the party must do the best choice take the left or right side and should also to thing cocktail effect on the general election which must have 4% tress hold when this party still exist in the parliament. Hope this party make a good choice for benefit public and don’t thing the occupancy.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (1)