Tuesday, 16 October 2018

Menimbang Keputusan Ijtima Ulama dan Keputusan Politik

Menimbang Keputusan Ijtima Ulama dan Keputusan Politik

Foto: DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH. (belaquran)

Oleh: DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH.*

Jakarta, Swamedium.com — Keputusan Ijtima Ulama, bukanlah didasari atas kepentingan praktis-pragmatis belaka, namun didasarkan pada perhitungan yang sangat matang guna membangun keumatan dan kebangsaan dalam rangka mewujudkan tujuan dan cita-cita nasional. Peranan Habaib dan Alim Ulama telah teruji dan terbukti mampu mengantarkan pemimpin pilihan umat pada saat Pilkada Jakarta tahun 2017 yang lalu. Dengan demkian, belajar dari pengalaman Pilkada Jakarta adalah suatu keniscayaan. Dengan kata lain, keberadaan Habaib dan Alim Ulama dengan tokoh sentral Imam Besar Habib Rizieq Syihab tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Terkait dengan tersiarnya kabar bahwa Habib Salim Segaf dan Ustadz Abdul Somad yang menyatakan ketidaksediaannya sebagai Cawapres untuk mendampingi Prabowo Subianto, bukan dimaknai keberadaan keputusan Ijtima Ulama menjadi kehilangan obyeknya. Sepanjang keduanya tidak bersedia, maka rekomendasi Cawapres selanjutnya dari Alim Ulama tetap menjadi rujukan bagi Prabowo Subianto untuk mendampinginya. Tersiar kabar dan telah viral, pernyataan KH. Sobri Lubis (Ketua Umum DPP FPI) yang menegaskan adanya Cawapres alternatif – dengan catatan Habib Salim Segaf dan Ustadz Abdul Somad memang dipastikan tidak bersedia – yakni, KH. Arifin Ilham atau KH. Abdullah Gymnastiar, harus diperhatikan dan tidak dapat dinegasikan. Dikatakan demikian, oleh karena pilihan alternatif tersebut merupakan satu kesatuan dengan Ijtima Ulama, terlebih lagi telah disetujui oleh Imam Besar Umat Islam Indonesia Habib Rizieq Syihab. Keduanya pun telah menyatakan kesediaannya untuk mendampingi Prabowo Subianto.

Keberadaan Alim Ulama dan Ormas-Ormas Islam yang tergabung dalam GNPF-Ulama dengan tokoh sentral Imam Besar Umat Islam Indonesia Habib Rizieq Syihab secara riil telah menjadi suatu kekuatan civil society, yang walaupun bukan berupa Partai Politik, namun memiliki daya guna melebihi partai politik. Pengalaman Pilkada Jakarta tahun 2017, adalah bukti nyata, dimana saat itu Habib Rizieq Syihab telah menjadi “magnet” yang mampu menggerakkan umat Islam dengan aksi terkenal 212. Hingga saat ini, tidak ada yang mampu menghimpun massa secara kolosal dan fenomenal tersebut. Lebih lanjut, bersandingnya tokoh nasional yang dalam hal ini diwakili oleh Prabowo Subianto dengan perwakilan Alim Ulama yang direkomendasikan oleh Ijtima Ulama memiliki kekuatan sosiologis dimasyarakat, pandangan dan keputusannya menjadi rujukan umat. Secara filosofis, apa yang diputuskan tidaklah berdasarkan pandangan pragmatis sebagaimana Partai Politik, namun sebatas mengharapkan ridho Allah SWT.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)