Wednesday, 12 December 2018

Politik Rasional VS Simbolik

Politik Rasional VS Simbolik

Foto: Dr Adian Husaini, peneliti INSISTS. (voa-islam)

Oleh: DR. Adian Husaini*

Jakarta, Swamedium.com — Kamis malam itu, karena lelah menunggu pengumuman capres-cawapres kubu Prabowo, saya tertidur. Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin sudah diumumkan. Ketika saya terbangun, tampak Prabowo sedang mengumumkan pasangan dirinya dengan Sandiaga Uno. Jujur, saat itu, saya kecewa. Karena saya berharap ada “kejutan”, dan berharap ada calon wapres Prabowo dari kalangan ulama.

Tetapi, ketika saya cermati pidato Prabowo, Sandi, dan beberapa pimpinan Partai Koalisi Prabowo, saya paham, bahwa pilihan Prabowo atas Sandi adalah sebuah pilihan rasional. Prabowo fokus pada program pembangunan kedaulatan dan keadilan ekonomi. Itu gagasan dia yang sudah saya dengar sejak saya masih aktif sebagai wartawan tahun 1990-an.

Prabowo tampak konsisten, tidak berubah, baik gagasan maupun gaya bicaranya. Puluhan tahun saya tidak jumpa lagi dengan Prabowo, mungkin sejak 1998. Saya paham, mengapa Amien Rais, Sohibul Iman, Zulkifli Hasan, dan lain-lain, bisa menerima Sandi sebagai cawapresnya Prabowo. Bukan karena uang, tetapi karena Prabowo adalah sosok yang sangat cerdas dan rasional. Tidak mudah berdiskusi dengan Prabowo. Perlu modal intelektual dan referensi tinggi. Prabowo, SBY, ZA Maulani (alm), Sayyidiman, dan beberapa jenderal lainnya, dikenal sebagai sosok-sosok tentara intelektual yang hobi membaca buku. Mereka juga punya kemampuan retorika yang tinggi.

Mimpi saya, bagus sekali jika para jenderal itu kemudian mendalami ulumuddin dan bisa tampil pula sebagai ustad yang mampu khutbah Jumat. Saya sama sekali tidak merasa tersaingi sebagai khatib Jumat. Justru saya merasa sangat gembira, kalau AHY — misalnya — mau belajar agama dengan serius, sehingga menjadi ulama.

Seorang jenderal AD pernah bilang kepada beberapa wartawan, saya termasuk di situ, “Ini jelas-jelas batu, tapi kalau Jenderal ini (bukan Prabowo) ngomong bahwa ini emas, bisa-bisa orang percaya bahwa ini emas.” Sang jenderal itu tentu sedang bermetapora. Ia hanya menggambarkan, betapa kuatnya kemampuan sang jenderal itu dalam membangun narasi.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)