Friday, 16 November 2018

Partai Emak-emak

Partai Emak-emak

Oleh: Ruslan Ismail Mage*

Jakarta, Swamedium.com — Separuh penduduk dunia adalah perempuan, yang berarti separuh dari masing-masing penduduk nasional sebuah bangsa adalah perempuan, tidak terkecuali Indonesia. Itulah kemudian para tokoh perempuan selalu menyuarakan “demokrasi tanpa perempuan bukan demokrasi”.
Berdasarkan data itu, posisi perempuan dalam politik selalu strategis menentukan masa depan suatu bangsa. Indonesia yang sedang mempersiapkan beberapa tahapan menuju Pemilu 2019, tentu menjadi sangat menarik mendiskusikan dan menganalisa bagaimana posisi perempuan dalam pertarungan dua kontestan peserta Pilpres 2019.
Berkaitan dengan itu Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sudah menyerahkan Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) kepada KPU. Tercatat ada 196,5 juta orang dipastikan memiliki hak memilih pada Pemilu 2019, yang terdiri pemilih laki-laki 98.657.761 orang dan pemilih perempuan 97.887.875 orang.
Sementara itu data Biro Pusat Statistik (BPS) menjelaskan komposisi penduduk Indonesia lebih banyak tinggal di daerah pedesaan dibandingkan yang tinggal di perkotaan.
Bisa jadi data ini dipahami benar oleh Cawapres Sandiaga Uno sehingga setiap kemunculannya yang berkaitan dengan Pilpres 2019 selalu mengistimewakan komunitas emak-emak untuk diperhatikan. Pemilhan kata emak-emak rasa kampung banget, sangat pas menggugah jiwa ibu-ibu dan perempuan yang kebanyakan tinggal di kampung dengan segala kesederhanaannya. Beda ketika penyebutan kata bunda-bunda yang lebih menyasar kaum ibu-ibu atau perempuan di perkotaan, yang tanpa disasar pun sudah mulai jatuh cinta sama Sandiaga Uno.
Sebenarnya kebangkitan perempuan dalam politik di Indonesia mulai terasa sejak bergulirnya gerakan 212 yang ditandai dengan adanya ribuan kaum perempuan baik muda maupun ibu-ibu turun ke jalan bergabung dengan jutaan massa yang berkumpul di sekitar monumen nasional (monas) akhir tahun 2017.
Perempuan Indonesia nampaknya sudah mulai terinspirasi pernyataan M. Natsir yang mengatakan “Jika rakyat tidak mau berpolitik tidak usah berpolitik, tapi jangan buta politik, karena kalau buta politik akan dimakan politik”. Sekarang ibu-ibu yang dulunya hanya suka nonton sinetron sudah mulai tertarik nonton berita politik, bahkan terkadang berdebat dengan suami tentang persoalan bangsa. Begitu pula ibu-ibu di kampung yang selama ini diam, sekarang mulai kritis bahkan sudah berani berteriak kalau harga kebutuhan pokok di pasar tradisional melambung tinggi meninggalkan dapurnya. Ini semua fenomena kalau kaum perempuan Indonesia sudah mulai sadar politik, sudah mampu menjadi pemilih kalkulatif (pemilih yang mampu mengkalkulasi untung ruginya memilih partai dan pemimpinnya).
Kalau judul tulisan ini menyebutnya partai emak-emak, itu karena siapa pun dari dua kontestan Pilpres 2019 yang mampu mengorganisir suara emak-emak, maka bersiaplah menjadi pemenang. Lalu kepada siapa partai emak-emak ini akan berkoalisi pada Pilpres 2019? Apakah kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin atau kepada pasangan Prabowo-Sandiaga Uno? Silahkan tanya emak-emak di rumah. Namun secara psikologis biasanya emak-emak suka yang ganteng! Tapi entalah dalam politik.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)