Sunday, 16 December 2018

Jika Tak Hati-Hati, Yusril Bisa ‘Menjomblo’

Jika Tak Hati-Hati, Yusril Bisa ‘Menjomblo’

Foto: Tony Rosyid. (dok. pribadi)

Oleh: Tony Rosyid*

Jakarta, Swamedium.com – Saya ingin buat analogi. Ada seorang gadis di usia nikah. Cantik, menawan dan pantas diajak kondangan. Dilamar seorang lelaki. Tapi laki-laki ini beristri. Mapan, karirnya bagus, matang karena punya pengalaman, dan yang terpenting lelaki ini sangat perhatian. Dengan gadis ini, lelaki itu merasa muda kembali. Bersemangat dan tambah percaya diri.

Menikah dengan lelaki ini, si gadis sejahtera. Rumah diberikan, mobil dibelikan, kebutuhan hidup tak akan kekurangan. Bahkan berkesempatan jalan dan bulan madu ke luar negeri sesuai keinginan. Bukan hanya dia, tapi juga keluarganya. Kebetulan keluarganya butuh untuk itu. Tapi ada satu persoalan. Apa itu? Sosial punishmen. Apa kata tetangga? Dicap pelakor, merebut istri orang, perusak rumah tangga, dan seterusnya. Itu risiko! Risiko sosial mainstream.

Di sisi lain, ada lelaki bujang mendekati. Sebagai gadis normal ia ingin punya jodoh bujang, muda dan sebaya. Umumnya bujang, hidup belum mapan. Malah kadang tak punya usaha atau pekerjaan. Yang jelas, belum bisa memberi jaminan dan janji masa depan. Menikah dengan bujang tentu juga ada risikonya. Apa risikonya? Siap berjuang bersama-sama. Derita dan susah bersama. Bersedia kerja keras, tertatih-tatih, mungkin sangat melelahkan untuk mencukupi kebutuhan baik secara ekonomi, bahkan psikologis. Butuh lebih banyak waktu untuk menyesuaian dan membuat satu irama. Masa depan? Bisa berhasil, tak menutup kemungkinan untuk gagal. Yang pasti, dinamikanya lebih ekstrim. Perceraian pun tetap punya peluang. Apalagi jika si gadis atau pasangannya tak sabar, atau cekcok dengan keluarga. Ini sumber paling dominan dalam perceraian.

Yusril seperti gadis belia itu. Cerdas, populer, dan mampu back up hukum. Ada sedikit spirit dengan bergabungnya Yusril. Saat ini, Yusril dihadapkan pada dua pilihan. Ke Jokowi, atau ke Prabowo. Bimbang? Tidak! Semua bergantung negonya. Dalam politik, tak ada pertimbangan rasa. Yang ada adalah rasionalitas kebutuhan. So, tak ada keraguan! Kalkulasinya pada seberapa besar keuntungan.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)