Thursday, 21 March 2019

Fenomena Rakyat “Berpesta”, The Unstopable People Movement

Fenomena Rakyat “Berpesta”, The Unstopable People Movement

Oleh: Iramawati Oemar*

Jakarta, Swamedium.com — Akhir tahun 2018 ditutup dengan fenomena “pesta” rakyat yang menghadirkan massa dalam jumlah besar bahkan super besar. Setidaknya ada 3 kejadian pesta rakyat yang terjadi di penghujung tahun ini : Reuni 212 di Monas, syukuran dan maian bersama warga Cianjur/Jawa Barat atas tertangkapnya Bupati mereka oleh KPK, dan yang terakhir adalah konvoi kemenangan The Jackmania merayakan “pecah”nya puasa gelar juara selama 17 tahun oleh Persija. Semuanya menghadirkan banyak sekali massa, tua-muda, laki-perempuan, menembus batas kelas sosial kaya-miskin.

Kebetulan kemarin pagi saya ke Jakarta, sejak masuk Jakarta di wilayah Slipi menuju Senayan, sudah mulai macet. Pun juga ketika menuju Cikini.
Tapi saya tak menyangka sama sekali bahwa akan sebanyak itu massa yang tumpah ruah merayakan kemenangan The Jackmania. Setelah melihat tayangan berita TV malam harinya, saya terheran-heran sekaligus terharu melihat betapa massa sebanyak itu bisa berkumpul, spontan, dengan cara mereka sendiri hadir ke Balaikota, berkonvoi, larut dalam suka cita bahkan euphoria. Tapi Alhamdulillah tidak ada kejadian buruk dari pesta kemenangan ini. Tak ada tawuran, tak ada bentrok massa, tak ada kerusakan fasilitas publik, dll.

Kemarin yang berkumpul adalah “sebagian” warga DKI Jakarta, tidak ada kedatangan warga dari luar DKI, sebab ini moment khusus merayakan kemenangan klub bola milik Jakarta.
Ya, hanya sebagian saja warga DKI yang jadi suporter setia Persija. Namun jumlahnya cukup bikin kita tercengang.
Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Bahkan ketika masa jaya-jayanya Jokowi dan Ahok sekalipun!

Kalau saja Ahok melihat dari tayangan berita di televisi, saya tak tahu bagaimana perasaannya, melihat Anies Baswedan yang baru genap 14 bulan menjabat sebagai Gubernur, bisa ikut larut bersama puluhan ribu the jackmaniaers, naik ke atas atap bus dan bersuka cita bersama rakyatnya, tanpa batas. Tidak perlu lagi teriakan mengelu-elukan, cukup melihat wajah-wajah sumringah, bangga dan bahagia berbaur bersama gubernurnya.
Saya terharu, inilah pengejawantahan tagline “maju kotanya, bahagia warganya”.
Sesuatu yang belum pernah terjadi di era 2 tahun jokowi jadi gubernur DKI dan 2,5 tahun Ahok melanjutkannya.
Ketika caci maki dan bentakan-bentakan kasar tak lagi diperdengarkan dari balaikota, saat itulah sedikit semi sedikit semuanya berubah menjadi lebih baik!
Believe it or not : ALAM pun ijut bekerja, “restu” alam menyertai semua aktivitas di kota itu. Prostitusinya diberantas, janji-janji untuk kebaikan dan kesejahteraan warga mulai ditunaikan, kotanya mulai dibikin indah, dan saat itulah PRESTASI mulai tercipta.
It’s what called SUNNATULLAH, hukum alam.
Ketika semua dikerjakan dengan baik dan bersahabat bersama rakyatnya, maka semuanya pun menjadi ikut baik.
Dan rakyatnya pun menunjukkan rasa terima kasih mereka dalam luapan kegembiraan.
Yang kemarin berkumpul di Balaikota dan berkonvoi bersama, itu BUKAN RELAWAN Anies lho! Itu warga DKI, entah mereka memilih Anies – Sandi atau tidak pada 2017 lalu, taoi mereka warga DKI.
Goodbener Pak Anies Baswedan.

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)