Wednesday, 20 February 2019

Menjaga Netralitas Penyelenggara Liga Capres Indonesia

Menjaga Netralitas Penyelenggara Liga Capres Indonesia

Dengan kemampuan uang yang dimiliki, kubu yang didukung tirani modal akan membeli segala sesuatunya yang bisa mendukung kemenangannya. Mulai dari menguasai iklan dan pemberitaan di media massa yang cenderung manipulatif, membeli suara (money politics), menyogok panitia pemungutan suara, menyebar mafia-mafia suara, sampai memoles lurah, camat, dan bupati menjadi agen mobilisasi politiknya.

Pertarungan yang tidak seimbang secara finansial ini, lebih tidak adil lagi ketika KPU sebagai penanggungjawab pertandingan tetap mempunyai celah untuk tidak bersikap netral.

Kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat beberapa peristiwa yang mengelilingi KPU akhir-akhir ini memicu publik menyoroti netralitasnya sebagai penyelenggara pemilu.

Akibatnya pertarungan yang sebelumnya diharapkan dapat menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas (demokrasi) yang mengedepankan kejujuran, keadilan dan kebenaran dengan mempertontonkan permainan yang cantik dan memukau bisa saja hilang, tergantikan taktik dan strategi kotor (menghalalkan segala macam cara) untuk memenangkan pertandingan.

Kalau kita mengacu kepada beberapa kasus tawuran antara pendukung sepak bola yang dipicu ketidakadilan penyelenggara (wasit) dalam memipin pertandingan, tentu KPU sebagai penyelenggara pemilu (wasit) yang mengatur jalannya pertarungan kedua kubu yang cenderung memanas menjelang final ini, wajib menjaga netralitasnya untuk menghindari munculnya benih-benih konflik antara pendukung di lapangan.
Dari pengalaman menyaksikan pemilihan presiden dari tahun 2004, 2009, 2014 lalu, ada satu sisi yang menarik dijadikan acuan pada pemilu 2019.

Ternyata pendukung/penonton (rakyat) jauh lebih bersifat sportif di banding penonton sepak bola benaran. Pendukung calon presiden yang kalah sportif dan tidak memberikan reaksi penolakan yang bisa memicu kerusuhan.

Dalam konteks ini, nampaknya rakyat jauh lebih memahami esensi demokrasi modern dibanding para politisi, yaitu “sportivitas” mengakui keunggulan orang lain dan menerima kekalahan dengan lapang dada tanpa harus mencari kambing hitam yang semakin mahal setiap menjelang hari raya korban.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)