Wednesday, 20 February 2019

Buya Hamka Sangat Tegas dalam Soal Kepemimpinan Islam

Buya Hamka Sangat Tegas dalam Soal Kepemimpinan Islam

Jakarta, Swamedium.com — Buya Hamka tidak menganggap ranah politik sebagai dunianya, namun beliau tidak anti politik, bahkan sangat melek politik dan mengakui pentingnya politik sebagai bagian dari ajaran Islam. Menurut Hamka, kepemimpinan Islam adalah suatu hal yang sudah jelas karena dibahas dengan sangat gamblang dalam Al-Qur’an.

Hal itu disampaikan oleh Akmal Sjafril yang tampil pada sesi pertama kajian “Napak Tilas Keteladanan Politik Buya Hamka” di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Cawang, Jakarta, Ahad (20/01) pagi. Kajian ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan 111 Tahun Buya Hamka yang diselenggarakan oleh Sekolah Pemikiran Islam (SPI).

“Dalam bukunya, Pelajaran Agama Islam, yang secara khusus membahas persoalan-persoalan ‘aqidah, Buya Hamka menjelaskan tauhid secara panjang lebar, kemudian menegaskan bahwa politik Islam itu sendiri merupakan konsekuensi dari tauhid,” ungkap Akmal yang tampil sebagai peneliti Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS).

Akmal, yang juga aktivis komunitas #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) ini, kemudian menjelaskan bahwa Hamka tidak mengidentikkan politik dengan kekuasaan, melainkan dengan sikap seorang mukmin kepada keadilan dan kezaliman.

“Menurut Hamka, jiwa yang dihiasi oleh tauhid akan memandang dunia dengan penuh perhatian dan tafakkur. Dengan sendirinya, jiwa itu akan terbiasa dengan keteraturan, keindahan, kebaikan, kebenaran dan keadilan. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak akan diam saja di hadapan kezaliman,” ujar kandidat doktor Ilmu Sejarah dari Universitas Indonesia (UI) ini.

Ada juga episode kehidupan Hamka yang secara langsung bersentuhan dengan politik praktis, antara lain keterlibatannya dalam Konstituante mewakili Partai Masyumi pasca Pemilu 1955.

“Karir politiknya berakhir dengan dibubarkannya Konstituante melalui Dekrit Presiden 1959, dan kemudian Masyumi dibubarkan secara sepihak oleh Soekarno pada tahun 1960. Bagaimana pun, Hamka terus membimbing umat sebagai ulama, yang menurutnya memang memiliki tugas untuk memberontak terhadap kezaliman,” ungkap lelaki asli Minang ini.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)