Monday, 18 February 2019

Sebagai Ulama, Buya Hamka Mampu Bersikap Tegas kepada Penguasa

Sebagai Ulama, Buya Hamka Mampu Bersikap Tegas kepada Penguasa

Jakarta, Swamedium.com — “Bagaimana sikap Buya Hamka dulu terhadap jabatan sebagai Ketua MUI yang dulu ditawarkan kepadanya oleh pemerintah?”, demikian pertanyaan yang diajukan oleh Alifi Maulidiyah, salah seorang peserta kajian “Napak Tilas Keteladanan Politik Buya Hamka” pada hari Ahad (20/1) silam. Selain Alifi, peserta diskusi lain juga meminta penjelasan tentang relasi antara ulama dan penguasa yang tepat dalam pandangan Buya Hamka.

Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, Akmal Sjafril, salah seorang narasumber dalam kajian tersebut, mencoba bercermin dari sejarah. “Dalam bukunya, Hakadza Zhahara Jiil Shalaahuddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds, Syaikh Majid Irsan al-Kilani mengatakan bahwa kepemimpinan paling ideal telah dicontohkan oleh Khulafaur Rasyidin. Keempat khalifah itu adalah umara sekaligus juga ulama yang memiliki otoritas dalam berfatwa,” ujarnya.

Kondisi ini melahirkan sebuah situasi yang unik. “Karena Khulafaur Rasyidin semuanya adalah ulama yang memiliki kapasitas dalam berfatwa, kebijakan-kebijakan yang dibuatnya tidak melanggar agama, dan untuk persoalan-persoalan yang tidak besar, tidak perlu menghabiskan waktu untuk meminta para ulama untuk berkumpul dan bermusyawarah. Mereka bisa lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mendidik umat,” ungkap aktivis #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) ini.

Meski demikian, pada masa-masa berikutnya, kondisi ideal itu sangat sulit untuk dicapai. Oleh karena itu, umat membutuhkan pendekatan baru.

“Umumnya, umara dan ulama memang merupakan dua lembaga yang terpisah. Tugas ulama-lah untuk memperingatkan penguasa, menjaganya agar tetap dalam koridor agama. Karena itu, Buya Hamka menyambut baik pendirian MUI, meski beliau harus dibujuk-bujuk dulu oleh para sahabatnya agar mau menjabat sebagai ketua umumnya,” ujar Akmal lagi.

Meski kerja sama yang apik memang dibutuhkan, namun ulama tetap harus berusaha menjaga independensinya dari penguasa. Hamka, menurut Akmal, telah melakukannya dengan sangat baik. Ini terlihat dari sikap Hamka yang akhirnya mau menerima jabatan Ketua MUI, asalkan tidak digaji.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)