Wednesday, 20 March 2019

Rocky Gerung, Intelektualitas Versus Elektabilitas

Rocky Gerung, Intelektualitas Versus Elektabilitas

Oleh Ruslan Ismail Mage*

Jakarta, Swamedium.com — Secara politik, Indonesia tahun 1998 mendapat berkah setelah gerakan reformasi melahirkan proses demokratisasi dihampir seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dikatakan berkah karena secara teoritik demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling bisa mendistribusikan keadilan dan mengalokasikan kekayaan alam yang merata kepada seluruh warga bangsa tanpa terkecuali.

Berdasarkan kajian literatur ada beberapa alasan kenapa harus demokrasi. Diantaranya demokrasi menjamin setiap warga negara memiliki kedudukan dan hak yang sama dibidang politik, hukum, ekonomi, dan pendidikan. Jadi lagi-lagi secara teoritik warga negara harus mensyukuri datangnya demokrasi yang membawa persamaan hak bagi setiap warga negara setelah terkungkung puluhan tahun.

Persoalannya kemudian, ternyata proses demokratisasi yang sudah berlangsung 20 tahun di negeri ini belum sepenuhnya melahirkan warga negara yang konsisten mempertahankan ciri warga negara demokratis yang harus bersuara dan tidak boleh diam ketika melihat dan merasakan ada ketidakadilan.

Sebagaimana kata Robert Dahl bahwa “warga negara yang diam akan menjadi racun bagi demokrasi dan menjadi berkah bagi pemerintahan otoriter yang korup”. Rocky Gerung menyebutnya demokrasi adalah “menggelang bukan mengangguk”. Artinya multivitamin demokrasi adalah suara kritis dari warganya, khususnya kaum intelektualnya dalam menjaga tata kelola pemerintahan yang bersih.

Menuju Pemilu 2019 yang hanya diikuti dua pasangan calon presiden, serta merta menguatkan polarisasi pendukung menjadi dua kubu. Fakta kemudian menunjukkan polarisasi dua kubu ini semakin tanjam menukik saling menyerang dan memojokkan untuk memperebutkan elektabilitas.

Kekhawatiran pun muncul karena pola serangan pendukung kedua kubu di ruang-ruang publik tidak jarang menggunakan narasi-narasi rendahan yang tidak mengandung nilai-nilai pendidikan politik, tetapi sebaliknya saling menyerang, mengejek, melecehkan, mengarah fitnah yang terkadang merampas akal sehat.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)