Sunday, 24 February 2019

Minim Kesejahteraan, Rawan Dibungkam Penguasa, Inilah Nasib Wartawan

Minim Kesejahteraan, Rawan Dibungkam Penguasa, Inilah Nasib Wartawan

Foto: Setop kekerasan terhadap jurnalis. (ilustrasi/ist)

Pada 10 Januari 1958, Pemred Indonesia Raya Mochtar lubis diangkut ke penjara militer, dan pihak berwenang hanya menyatakan tidak ada komentar (no comment). Kemudian ia dikenakan tahanan kota. Pada 10 Maret 1958 majalah Time dilarang beredar di Indonesia karena memuat berita yang dianggap menjelekkan Bung Karno.

Pada 17 Desember 1964 Bung Karno melarang keberadaan Badan Pendukung Soekarno (BPS) yang anti-komunis dan kemudian memberangus sejumlah surat kabar serta majalah yang dinilai pro-BPS. Bung Karno kemudian mewajibkan semua media massa di negeri ini setiap hari menerbitkan tulisan-tulisannya.

Pada ulang tahun ke-19 PWI, Bung Karno menyatakan, ”Saya dengan tegas menyatakan sekarang bahwa dalam suatu revolusi tidak boleh ada kebebasan pers. Hanya pers yang mendukung revolusi yang dibolehkan hidup.”

Ketika Bung Karno diturunkan, Presiden Soeharto juga melarang bahkan menangkapi para wartawan yang dinilai beraliran kiri. Mereka selama bertahun-tahun dijebloskan dalam penjara dan banyak yang di-PulauBuru-kan.

Hal yang sama juga terjadi ketika BPS dan kemudian Manikebu dibubarkan. Sekalipun tidak sampai terjadi pemenjaraan massal seperti di era Orba, tapi mereka yang dituduh Manikebu dan BPS dikucilkan dan disingkirkan dari tempat kerjanya.

Sumber: Republika

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)