Wednesday, 20 March 2019

Presiden, Kapolri dan Sejumlah Menteri Digugat Pengusaha Palu

Presiden, Kapolri dan Sejumlah Menteri Digugat Pengusaha Palu

People make off with goods from a shop in earthquake and tsunami-devastated Palu, Central Sulawesi, Indonesia September 30, 2018. Picture taken September 30, 2018. REUTERS

Palu, Swamedium.com — Kasus penjarahan yang dilakukan sebagain warga korban bencana tsunami dan gempa bumi di Sulawesi Tengah (Suteng) akhirnya dibawa ke pengadilan. Sembilan pengusaha yang menjadi korban penjarahan mengalami kerugian materil senilai Rp87,377 miliar.

Mereka sebenarnya berharap agar mendapatkan ganti rugi dari pemerintah atas penjarahan tersebut. Namun hingga kini, kerugian yang dialami belum juga tergantikan. Hal itu merujuk pada pernyataan sejumlah menteri yang menjanjikan ganti rugi untuk penjarahan makanan oleh korban bencana. Meski pada kenyataannya, semua barang nonmakanan ikut dijarah.

Hal itulah yang mendasari sembilan pengusaha besar Kota Palu menggugat pemerintah yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo beserta beberapa menteri dan pihak-pihak terkait. Di antaranya, Menteri Dalam Negeri, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Kepala Kepolisian RI Cq Kapolda Sulteng, Menteri Dalam Negeri, Cq Gubernur Sulawesi Tengah dan turut tergugat Menteri Keuangan.

“Gugatan tersebut, sudah resmi didaftarkan, dengan perkara perbuatan melawan hukum (PMH) dilakukan oleh penguasa yang tertuang dalam pasal 1365 KUH Perdata. Perkara itu juga telah teregister dengan nomor 21/Pdt.G/2019/PN Pal, di Pengadilan Negeri (PN) Palu,” kata Ketua Tim Pengacara sembilan pengusaha Kota Palu, Muslim Mamulai, kepada INI Network di Palu, Senin (12/3/2019).

Karena mendengar pernyataan para menteri tersebut, tambah Muslim, masyarakat Kota Palu melakukan penjarahan di sejumlah toko, warung dan minimarket. Alhasil, bukan hanya tempat penjualan makanan yang dijarah. Usaha ritel, distributor consumer goods, elektronik, hasil bumi serta usaha lainnya, juga mengalami penjarahan.

“Jadi, yang dijarah ini bukan hanya stok makanan. Tetapi juga meliputi barang elektronik, hasil bumi dan sebagainya. Kemudian rentan waktu terjadinya sekira tanggal 29 September 2018 hingga 7 Oktober 2018,” kata Muslim.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)