Saturday, 20 April 2019

Pengamat Menilai Logis Prabowo-Sandi Pangkas Tarif Listrik Hingga 50%

Pengamat Menilai Logis Prabowo-Sandi Pangkas Tarif Listrik Hingga 50%

Jakarta, Swamedium.com – Pemerhati energi nasional Ali Herman Ibrahim menyatakan sikap pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo-Sandi yang akan menurunkan tarif dasar listrik hingga 50 persen bagi pelangan 900 KWH sangat masuk akal dan konstitusional.

Masuk akal menurut Herman, karena memang secara ekonomi masih banyak komponen biaya produksi energi listrik yang sangat bisa diefisienkan atau dihentikan pemborosannya.

“Benar itu yang dikatakan Prabowo-Sandi. Ngga perlu dicurigai karena calon presiden nomor urut 02 ini ingin menolong rakyat dari beratnya beban biaya listrik dan tentu ada hitung-hitungan akal sehat hingga didapat optimisme baru soal tarif dasar listrik bagi yang tidak mampu. Sedangkan secara konstitusi, dasar dari penurunan harga tarif dasar listrik adalah Pasal 33 dari UUD 45,” kata Herman, dalam sebuah dialog yang digelar oleh Forum Tebet bersama radio digital Bravos, dipandu oleh wartawan senior Arif Gunawan, di Jakarta, Jumat (12/4/2019.

Selain memangkas TDL hingga 50 persen khusus bagi warga negara yang belum mampu lanjutnya, pemerintah mestinya juga menetapkan TDL dengan harga wajar sekaligus bisa diterima masyarakat.

“Kalau sudah dilakukan efisiensi secara transparan namun TDL masih dirasa berat oleh pelanggan 900 KWH, maka Negara akan memberikan subsidi secara tepat dan akurat. Jangan seperti sekarang, efisiensi tak optimal dilakukan tapi minta terus agar APBN perbesar subsidi ke PT PLN,” ujarnya.

Kalau akan ditambah terus subsidi melalui APBN tanpa ada optimalisasi efisiensi dari internal PT PLN sendiri kata Herman, ini jelas tidak prestasi. “Kalau cuma lewat subsidi maka TDL 900 KWH bisa diturunkan, semua orang bisa. Tapi yang dibutuhkan adalah efisiensi karena listrik dengan harga terjangkau adalah perintah konstitusi,” tegasnya.

Pages: 1 2

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)