Saturday, 20 April 2019

Demokrasi Kardus, Sembako dan Amplop

Demokrasi Kardus, Sembako dan Amplop

Jakarta, Swamedium.com — Memasuki masa tenang pileg dan pilpres 2019, publik banyak di suguhi dramatikal politik pemilihan di pelbagai kedutaan besar negara indonesia melalui sejumlah media sosial yang banyak di warnai carut marut dan problem seputar dpt (daftar pemilih tetap) dan distribusi logistik dalam tahapan pemilu yang dibingkai dalam demokrasi kardus.

Mungkin sejak era reformasi dan pemilu 1955 bisa dibilang ini adalah pileg dan pilpres yang paling buruk dalam hal penyelenggaraan dan akan menjadi catatan sejarah sebagai pileg dan pilpres pertama yang paling brutal karena masifnya mobilisasi asn, kepolisian dan pegawai bumn yang digiring untuk mengkampanyekan kandidat capres tertentu.

Negara sepertinya telah gagal mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara karena dalam pileg dan pilpres ini yang terjadi justru ada oknum pejabat negara yang memfasilitasi uang suap dalam sejuta amplop dan sembako untuk di sebar kepada masyarakat menjelang pemilihan nanti.

Demokrasi kardus, amplop dan sembako ini sangatlah menjijikan dan sama sekali tidak mendidik rakyat karena suara rakyat yang merupakan suara tuhan mereka coba untuk disuap oleh oknum politisi agar digadaikan kepada para calon legislator ataupun pemimpin politik yang lahir dari demokrasi kardus tersebut yang notabene, sekali lagi saya sebut merupakan demokrasi terburuk sepanjang berdirinya NKRI.

Para penyelenggara pemilu tampaknya tidak siap dan kurang sigap terhadap masifnya sejumlah laporan kecurangan pemilu di sejumlah negara, yang pada akhirnya berdampak pada memburuknya citra demokrasi Indonesia dimata dunia. Penyelenggara pemilu dan pengawas sepertinya sengaja membiarkan money politik yang disawer diatas panggung hiburan saat kampanye politik terjadi.

Demokrasi kardus yang digembok, dengan alasan penghematan anggaran pada akhirnya dijadikan lelucon para kartunis dunia, membuat para penyelenggara pemilu kehilangan simpati publik. Rakyat pemegang mandat tertinggi dalam negara telah menyerukan demokrasi yang jurdil, bukan dengan demokrasi amplop dan sembako seperti yang dilakukan bowo yang di OTT KPK.

Pages: 1 2 3

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)