Saturday, 20 April 2019

Memahami Kondisi Masyarakat Jahiliyah untuk Memperjelas Keimanan

Memahami Kondisi Masyarakat Jahiliyah untuk Memperjelas Keimanan

Foto: Sekolah Pemikiran Islam Natsir Bandung gelar kelas perdana angkatan-2017. (Nadya/jurnalis warga)

Bandung, Swamedium.com — Sekolah Pemikiran Islam (SPI) angkatan ke-5 Bandung pada pertemuan kedelapan membahas seputar Masyarakat Jahiliyah yang merupakan jaman sebelum Rasulullah diutus menajdi Rasul dan menyebarkan agama Islam. Peserta diskusi berasal dari berbagai macam latar belakang dari mahasiswa, karyawan swasta, hingga dosen.

Acara perkuliahan diselenggarakan di tempat yang sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya di Gedung PPPPTK IPA, Bandung, Kamis (11/4) lalu.

Materi dimulai dengan penjabaran fakta negara-negara yang dinilai paling Islami adalah negara Denmark, Finlandia, Norwegia bahkan negara Arab Saudi menempati posisi ke 90. Selanjutnya pemateri masuk ke materi pendahuluan tentang masyarakat jahiliyah.

“Memahami makna jahiliyah dapat memperjelas keimanan kita. Jangan sampai keislaman kita tercampur dengan unsur-unsur jahiliyah,” tegas Ahmad Rofiqi selaku pemateri sekaligus dosen di Muhammadiyah Islamic College Singapura.

“Jahiliyah bukan suatu masa tertentu, tapi suatu kondisi yang bisa jadi jaman sekarang pun ada seperti menuhankan adat, menuhankan tradisi, menuhankan hawa nafsu yang bertentangan dengan keimanan. Namun tidak semua perilaku jahiliyah atau orang yang memiliki sifat kejahiliyahan otomatis menjadi kafir. Dalam memahami konsep jahiliyah ini harus hatihati jangan sampai terlalu menyepelekan atau terlalu ekstrim dalam menyimpulkan,” tutur Ahmad Rofiqi.

“Paham kejahiliyahan yang keliru bisa menyebabkan perpecahan semacam paham yang menyimpulkan jahiliyah sama dengan kafir,” kesan Elis salah satu peserta SPI.

Diakhir materi, Ahmad menyimpulkan bahwa jahiliyah itu ada empat macam yaitu jahiliyah aqidah, jahiliyah sistem, jahiliyah akhlaq, dan jahiliyah sosial. Ahmad pun menjelaskan penyebab dari kejahiliyahan karena ketidaktahuan hakikat uluhiyah. (Siti Asiyah Zahrad/jurnalis warga)

Related posts

Comments on swamedium (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Comments from Facebook (0)