Thursday, 17 October 2019

Setiap Tahun, Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo Terus Dijarah

Setiap Tahun, Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo Terus Dijarah

Pekanbaru, swamedium – Akhir Desember 2016,  Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menemukan satu unit ekskavator di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Pelalawan, Provinsi Riau.

“Kita belum tahu siapa pemilik eskavator ini. Polri bersama TNI masih melakukan penyelidikan,” kata Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (BPPH) Kementerian LHK Wilayah II Sumatera Eduwar Hutapea, seperti dikutip Antara, Senin, 26 Desember 2016.
Ekskavator ini ditermukan di dalam kawasan TNTN di Dusun II Pondok Nogun, Desa Bagan Limau, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Eduwar menduga alat berat ini digunakan untuk merambah kawasan yang kemudian dijadikan areal perkebunan.

Dari catatan, sebanyak 60 persen kawasan  TNTN sudah dirambah dan dikonversi menjadi perkebunan sawit oleh masyarakat. Dari 81.700 hektare kawasan konservasi yang ditetapkan, kini hanya tersisa 23 ribu hektare yang utuh.

“Sementara yang sudah menjadi perkebunan sawit 20.000 hektare. Kemudian 38.000 hektare lainnya jadi semak belukar dan pohon kecil karena sebelumnya dirambah,” kata Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Darmanto, seperti dilansir antara, Jumat, 19 Agustus 2016.

Dia menyebutkan, kerusakan terjadi secara berangsur-angsur setiap tahunnya dan selalu bertambah. Sekitar 4.000 kepala keluarga (KK) diduga menjadi menjadi penduduk ilegal dan mendirikan perkampungan di sana.

“Sebagian besar dari para perambah itu bukanlah penduduk asli Riau, melainkan pendatang dari Sumatera Utara dan Pulau Jawa,” kata Darmanto.Pria yang menjabat Kepala Balai TNTN sejak enam bulan lalu itu menegaskan, perambahan dilakukan selama belasan tahun.

Dia tak ingin kejadian ini terus terjadi dan ingin memperbaiki 38.000 hektare lahan yang rusak untuk ditanami kembali.

“Sementara terkait keberadaan 20.000 lahan sawit itu masih perlu dibahas dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” jelas Darmanto.

Pages: 1 2

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.