Kamis, 21 Oktober 2021

Setiap Tahun, Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo Terus Dijarah

Setiap Tahun, Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo Terus Dijarah

Pekanbaru, swamedium – Akhir Desember 2016,  Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menemukan satu unit ekskavator di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Pelalawan, Provinsi Riau.

Banner Iklan Swamedium

“Kita belum tahu siapa pemilik eskavator ini. Polri bersama TNI masih melakukan penyelidikan,” kata Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (BPPH) Kementerian LHK Wilayah II Sumatera Eduwar Hutapea, seperti dikutip Antara, Senin, 26 Desember 2016.
Ekskavator ini ditermukan di dalam kawasan TNTN di Dusun II Pondok Nogun, Desa Bagan Limau, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Eduwar menduga alat berat ini digunakan untuk merambah kawasan yang kemudian dijadikan areal perkebunan.

Dari catatan, sebanyak 60 persen kawasan  TNTN sudah dirambah dan dikonversi menjadi perkebunan sawit oleh masyarakat. Dari 81.700 hektare kawasan konservasi yang ditetapkan, kini hanya tersisa 23 ribu hektare yang utuh.

“Sementara yang sudah menjadi perkebunan sawit 20.000 hektare. Kemudian 38.000 hektare lainnya jadi semak belukar dan pohon kecil karena sebelumnya dirambah,” kata Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Darmanto, seperti dilansir antara, Jumat, 19 Agustus 2016.

Dia menyebutkan, kerusakan terjadi secara berangsur-angsur setiap tahunnya dan selalu bertambah. Sekitar 4.000 kepala keluarga (KK) diduga menjadi menjadi penduduk ilegal dan mendirikan perkampungan di sana.

“Sebagian besar dari para perambah itu bukanlah penduduk asli Riau, melainkan pendatang dari Sumatera Utara dan Pulau Jawa,” kata Darmanto.Pria yang menjabat Kepala Balai TNTN sejak enam bulan lalu itu menegaskan, perambahan dilakukan selama belasan tahun.

Dia tak ingin kejadian ini terus terjadi dan ingin memperbaiki 38.000 hektare lahan yang rusak untuk ditanami kembali.

“Sementara terkait keberadaan 20.000 lahan sawit itu masih perlu dibahas dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,” jelas Darmanto.

Sementara itu, Komandan Satgas Karhutla Riau Brigjen TNI Nurendi menyebut, pihaknya masih mempertimbangkan untuk merelokasi keberadaan perambah TNTN supaya tak terjadi konflik.

Hanya saja, dirinya menyebut pemerintah dan berbagai pihak butuh konsep matang untuk menangani warga ilegal di TNTN.
“Saat ini, Satgas Karhutla bersama dengan Balai TNTN serta Pemerintah Kabupaten Pelalawan tengah mendata keberadaan warga yang bermukim di TNTN. Selanjutnya, petugas gabungan segera melakukan operasi Yustisi atau penertiban warga,” kata Nurendi.

Dari catatan WWF Indonesia, Tesso Nilo adalah rumah bagi 360 flora yang terbagi dalam 165 marga dan 57 suku. Selain itu, menjadi habitat bagi 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, 3 jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia, dan 18 jenis amfibia.

Kawasan Tesso Nilo dijadikan sebagai tanaman nasional dengan areal seluas 38.576 hektare
pada 19 Juli 2004. Pada 19 Oktober 2009, taman nasional tersebut diperluas menjadi 83.068 hektare.

Namun banyaknya penduduk yang menetap di dalam Taman Nasional Tesso Nilo membuat keberlangsungan kawasan ini sebagai taman nasional terancam. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di kawasan TNTN mengganti hutan alam menjadi kebun sawit.
Pengelola Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Provinsi Riau mengklaim sekitar 5.000 hektare lahan telah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) dan beralih fungsi, serta total lebih dari 53 ribu hektare hutan alam di kawasan tersebut sudah dirambah. (*)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita