Selasa, 13 April 2021

Para Dara Hazara Berlatih Wushu

Para Dara Hazara Berlatih Wushu

Kabul, Swamedium.com – Ahad (29/1), para gadis Afghanistan berlatih gerakan-gerakan Wushu–sebuah cabang olahraga yang dikembangkan dari seni bela diri Tiongkok kuno–yang terdiri dari peregangan, pembungkukan, dan penyayatan udara dengan pedang-pedang yang ringan di puncak bukit Shahrak Haji Nabi yang bersalju di sebelah barat Kabul.

Banner Iklan Swamedium

Di sebuah negara yang melarang sama sekali olahraga bagi kaum hawa, klub Wushu Shaolin di salah satu wilayah di Kabul yang menjadi ibu kota komunitas etnik Hazara merupakan sebuah kekecualian yang jarang.

Sima Azimi (20) yang memimpin sesi latihan mengatakan bahwa Wushu mengajarkan pertahanan diri. “(Wushu) ini sungguh efektif bagi tubuh dan jiwa,” ungkapnya seperti yang dikutip dari Reuters.

Ia mempelajari olahraga Wushu di Iran, bahkan pernah memenangi sebuah medali emas dan sebuah medali perunggu dalam kompetisi di sana. Ia telah mengajarkan Wushu di Kabul selama sekitar satu tahun.

“Ambisiku adalah melihat para muridku ikut serta dalam berbagai perlombaan internasional dan memenangi medali-medali untuk negara mereka,” ungkapnya.

Semua jenis seni bela diri populer di Afghanistan, tetapi Afghanistan terkenal sebagai negara yang melarang perempuan. Bahkan, klub Wushu Shaolin itu menghadapi gangguan yang sudah biasa dan perlakuan yang tidak pantas sebagai tambahan dari berbagai bahaya kehidupan yang normal terjadi di Kabul.

“Tantangan terbesar yang kami hadapi ialah ketidakamanan,” ungkap Zahra Timori (18). “Pada sebagian besar kesempatan, kami tidak dapat pergi ke klub karena ketidakamanan itu,” lanjutnya.

Temannya, Shakila Muradi, berkata bahwa ia berharap olahraga Wushu itu dapat membantu menciptakan suasana yang lebih damai di Afghanistan yang bertentangan dengan realitas sehari-hari yang dihadapi oleh para perempuan.

“Begitu banyak orang mengganggu kami, tetapi kami abaikan mereka dan mengejar cita-cita kami,” katanya.

Ketika memungkinkan, latihan berlangsung di sebuah gimnasium yang didominasi oleh poster Hussain Sadiqi, seorang juara seni bela diri dari Hazara yang mengungsi ke Australia pada 1999 dan kemudian bekerja sebagai pemeran pengganti akrobatis dalam film.

Sejauh ini, semua gadis di klub merupakan etnik Hazara. Tradisi sosial mereka umumnya lebih liberal, sehingga memberikan kesempatan bagi para gadis untuk keluar rumah dan berlatih olahraga.

Bapak Sima, Rahmatullah Azimi, berharap dapat melihat gadis-gadis dari etnik yang lain bergabung juga. Selain itu, ia khawatir tentang keamanan putrinya, tetapi ia mengatakan bahwa itu merupakan suatu kegembiraan dapat melihat putrinya melatih gadis-gadis yang lain. “Saya sungguh senang dapat membantu, menggiatkan, dan mendukung Sima,” katanya.

Keterangan foto: Sima (20) dan para muridnya, gadis-gadis Hazara, berpose setelah berlatih Wushu di puncak bukit bersalju, Shahrak Haji Nabi, di sebelah barat Kabul pada Ahad (29/1). (Sumber foto: Reuters/Mohammad Ismail)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita