Sabtu, 12 September 2020

TNGGP, Ekosistem Hutan Tersisa di Pulau Jawa

TNGGP, Ekosistem Hutan Tersisa di Pulau Jawa

Jakarta, Swamedium.com – Pada 1977, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ditetapkan sebagai salah satu World Network of Biosphere Reserves (WNBR) oleh UNESCO.

TNGGP merupakan kawasan untuk mendemonstrasikan hubungan yang seimbang antara manusia dan alam. Letaknya hanya berjarak 80 km dari Ibu Kota Negara. TNGGP merupakan bagian dari daerah aliran sungai yang menyaring dan menyediakan air bersih bagi masyarakat di Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Jakarta, dan sekitarnya.

TNGGP menjadi habitat sejumlah spesies endemik, termasuk Owa Jawa, Macan Tutul Jawa, Elang Jawa, Surili, dan Kukang jawa. Keberadaannya berperan dalam menjaga dampak perubahan iklim, mencegah banjir, dan longsor.

Kepala Balai Besar TNGGP, Ir. Suyatno Sukandar, M.Sc., menyampaikan data potensi sumber mata air di kawasan TNGGP pada 2015. Menurut data itu, ada sekitar 94 titik dengan jumlah debit air yang dihasilkan sekitar 594,6 miliar liter per tahun atau setara dengan 19,1 juta liter per detik.

“Air tersebut mengalir dan dimanfaatkan oleh seluruh kabupaten di sekitarnya, yang mencapai sekitar 30 juta orang. Akan tetapi, masih ada 2.000 hektar kawasan di dalamnya yang perlu direstorasi, khususnya di area perluasan TNGGP,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa upaya restorasi kawasan tersebut merupakan hasil kolaborasi dari banyak pihak, dan kemitraan merupakan kunci penting keberhasilan restorasi dan pelestarian ekosistem Taman Nasional. “Kami masih perlukan dukungan dan kesadaran banyak pihak untuk mendukung pelestarian kawasan hutan penting ini,” lanjutnya.

Conservation International (CI) Indonesia sebagai salah satu mitra TNGGP, telah mendukung program restorasi ekosistem di TNGGP sejak 2008 dengan dukungan dari Daikin Industries.

Hingga kini, khususnya di TNGGP, telah ditanam 120.000 pohon pada lahan seluas 300 hektar yang diperkirakan menyediakan 3,15 juta m3 air per tahun. Untuk mempercepat upaya restorasi, program Adopsi Pohon juga diinisiasi pada tahun yang sama. Kini, telah bertambah restorasi pada 200 hektar kawasan dengan dukungan dari 30 mitra, termasuk sektor swasta, institusi pendidikan, dan LSM.

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.