Minggu, 18 April 2021

TNGGP, Ekosistem Hutan Tersisa di Pulau Jawa

TNGGP, Ekosistem Hutan Tersisa di Pulau Jawa

Jakarta, Swamedium.com – Pada 1977, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ditetapkan sebagai salah satu World Network of Biosphere Reserves (WNBR) oleh UNESCO.

Banner Iklan Swamedium

TNGGP merupakan kawasan untuk mendemonstrasikan hubungan yang seimbang antara manusia dan alam. Letaknya hanya berjarak 80 km dari Ibu Kota Negara. TNGGP merupakan bagian dari daerah aliran sungai yang menyaring dan menyediakan air bersih bagi masyarakat di Bogor, Sukabumi, Cianjur, Depok, Jakarta, dan sekitarnya.

TNGGP menjadi habitat sejumlah spesies endemik, termasuk Owa Jawa, Macan Tutul Jawa, Elang Jawa, Surili, dan Kukang jawa. Keberadaannya berperan dalam menjaga dampak perubahan iklim, mencegah banjir, dan longsor.

Kepala Balai Besar TNGGP, Ir. Suyatno Sukandar, M.Sc., menyampaikan data potensi sumber mata air di kawasan TNGGP pada 2015. Menurut data itu, ada sekitar 94 titik dengan jumlah debit air yang dihasilkan sekitar 594,6 miliar liter per tahun atau setara dengan 19,1 juta liter per detik.

“Air tersebut mengalir dan dimanfaatkan oleh seluruh kabupaten di sekitarnya, yang mencapai sekitar 30 juta orang. Akan tetapi, masih ada 2.000 hektar kawasan di dalamnya yang perlu direstorasi, khususnya di area perluasan TNGGP,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa upaya restorasi kawasan tersebut merupakan hasil kolaborasi dari banyak pihak, dan kemitraan merupakan kunci penting keberhasilan restorasi dan pelestarian ekosistem Taman Nasional. “Kami masih perlukan dukungan dan kesadaran banyak pihak untuk mendukung pelestarian kawasan hutan penting ini,” lanjutnya.

Conservation International (CI) Indonesia sebagai salah satu mitra TNGGP, telah mendukung program restorasi ekosistem di TNGGP sejak 2008 dengan dukungan dari Daikin Industries.

Hingga kini, khususnya di TNGGP, telah ditanam 120.000 pohon pada lahan seluas 300 hektar yang diperkirakan menyediakan 3,15 juta m3 air per tahun. Untuk mempercepat upaya restorasi, program Adopsi Pohon juga diinisiasi pada tahun yang sama. Kini, telah bertambah restorasi pada 200 hektar kawasan dengan dukungan dari 30 mitra, termasuk sektor swasta, institusi pendidikan, dan LSM.

West Java Program Manager CI Indonesia, Anton Ario, menyatakan pada Kamis, 24 November 2016, bahwa edukasi penyadartahuan dan pelibatan masyarakat merupakan komponen pendukung upaya restorasi yang dilakukan. “Melihat pentingnya edukasi, bersama mitra, kami mengembangkan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol pada tahun 1998 untuk memperkenalkan keunikan hutan hujan tropis kepada siswa dan masyarakat melalui program edukasi, ekowisata, dan penelitian. Program-program di PPKAB tersebut telah diperkenalkan kepada lebih dari 50.000 siswa sejak tahun 1998. Program ini juga didukung [dengan] kegiatan mobile konservasi yang diinisiasi tahun 2003 dengan sasaran menjangkau siswa tingkatan SD, SMP, hingga SMA dan masyarakat di pelosok wilayah sekitar kawasan konservasi.”

Anton menyebutkan bahwa ada sejumlah inisiasi dan kegiatan konservasi terintegrasi yang mendukung upaya restorasi TNGGP, antara lain pendidikan dan penyadartahuan masyarakat, pemberdayaan masyarakat (termasuk pengembangan koperasi desa serta penyediaan fasilitas air bersih dan energi listrik tenaga air pikohidro), serta penyelamatan spesies penting, seperti Owa Jawa dan macan tutul jawa. Semuanya ada dalam satu payung program West Java Landscapes yang dilaksanakan oleh CI Indonesia bersama mitra.

Kini, CI Indonesia bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat tengah mereplikasi program restorasi dan penguatan kelola konservasi hutan ini pada Kesatuan Pengelola Hutan Konservasi (KPHK) Guntur Papandayan di Garut. Program ini akan merestorasi 100 hektar kawasan di dalam dan diluar kawasan, pemberdayaan masyarakat, edukasi dan penyadartahuan masyarakat, dan konservasi spesies terancam punah.

Program ini diharapkan dapat menjadi model untuk mendorong restorasi lebih dari 5.000 ha kawasan terdegradasi di sekitar KPHK Guntur Papandayan. Penyelamatan kawasan hutan yang terdegradasi tersebut akan berdampak nyata bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya, tak hanya sebagai penyedia air namun juga mencegah banjir dan longsor, yang tentunya diperlukan dukungan dari banyak pihak. (znl/ais)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita