Jumat, 22 Oktober 2021

Hidup Secara Sederhana

Hidup Secara Sederhana

Jakarta, Swamedium.com – Agama Islam telah mengajarkan kita agar hidup sederhana. Karena dengan hidup sederhana, kita akan selalu merasa cukup, bahagia dan rasa syukur Kepada Allah SWT. Sebaliknya Allah melarang kita untuk hidup bermewah-mewahan dan berbuat boros.

Banner Iklan Swamedium

Allah Ta’ala berfirman:
“bermegah-megahan telah melalaikan kamu”.(QS.AT Takatsur :1)

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS.Al Israa :26-27)

Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa orang-orang yang boros dan suka menghamburkan harta pribadi dan golongan secara berlebihan di cap oleh Allah sebagai “Saudara setan”. Mengapa? Ini karena biasanya orang yang berlaku boros akan berbuat dzalim.

Meski mempunyai penghasilan yang besar, karena mempunyai sifat boros, akan menimbulkan efek dalam diri yaitu akan selalu merasa kurang, merasa tak cukup dan merasa tak puas. Dan hasil dari rasa kurang itu dia akan mencuri, merampok, korupsi dan sebagainya untuk membiayai gaya hidupnya yang boros itu.
Tak heran jika ada pejabat yang berbuat korupsi, karena mempunyai sifat boros dan selalu merasa kurang.
Sebaliknya, ada seorang pekerja biasa yang jujur yang berkata: “Besar kecil gaji itu relatif. Kalau kita makan di restoran hotel, seminggu juga sudah habis. Tapi kalau sekedar makan nasi kecap dengan lauk tempe, 2 bulan juga masih cukup”. Jadi hiduplah sederhana.

Bersikap Zuhud (tidak tamak pada dunia) dan Qana’ah (merasa cukup atas apa yang ada). Itulah kesederhanaan Nabi Muhammad Saw, Seandainya saja jika mau, Beliau bisa hidup mewah seperti Kaisar Romawi dan Kisra Persia. Tapi beliau tidak mau melakukan itu. Sebagian besar hartanya diberikan untuk umatnya.

Dikisahkan ketika Umar ra memasuki kamar Nabi: Aku lalu segera masuk menemui Rasulullah saw. yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan.

Rasulullah bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab?
Umar menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar Romawi dan raja Persia bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini.

Rasulullah saw. lalu bersabda: Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Tentu saja aku rela…” (Shahih Muslim No.2704).

Wallahu ‘Alam bishawab

Foto: ist

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita