Rabu, 14 April 2021

Band Punk Yunani Kumpulkan Donasi untuk Pengungsi

Band Punk Yunani Kumpulkan Donasi untuk Pengungsi

Athena, Swamedium.com — Anfo, sebuah band punk asal Yunani, berpartisipasi dalam festival-festival antirasisme dan acara-acara pro pengungsi. Mereka menyumbangkan bayaran manggung mereka untuk para pengungsi dan migran.

Banner Iklan Swamedium

Anfo terdiri dari empat personel, yakni Sotiris Theocharis (vokalis utama dan gitaris), Nikos Tsouloufis (basis dan vokalis), Fotis Burgerkill (gitaris utama dan vokalis), dan Giorgos Chloros (drumer).

“Kami terlibat dalam perjuangan antikapitalis dengan beberapa gaya,” ungkap Giorgos (45) seperti yang dikutip dari Al Jazeera.

Meskipun sering tampil tanpa dibayar, Anfo mengenakan tarif sebesar lima Euro ketika bermain di sebuah lokasi yang berasap pada suatu malam yang dingin di Ibu Kota Athena pada akhir Desember 2016.

Mereka mengumpulkan uang untuk sekelompok pengungsi dan migran yang tinggal di Exarcheia, sebuah lingkungan di Athena.

Selain bermusik, Anfo memiliki kegiatan yang lain. “Kami mengikuti banyak demonstrasi untuk mendukung pengungsi semampu kami,” jelas Giorgos.

“Musisi rock punk selalu terlibat dalam berbagai jenis festival solidaritas,” lanjutnya.

Malam itu, Anfo berhasil meraup hampir 4000 Euro. Dana itu digunakan untuk memperbaiki dan memasang alat pemanas di sebuah okupansi bernama Notara 26 di Exarcheia, Athena.

Lebih dari 80 pengungsi dan migran tinggal di sebuah tempat dengan jalanan yang penuh dengan grafiti, dekat National Technical University of Athens, sebuah kampus bersejarah karena peristiwa besar tentang pemberontakan para mahasiswa melawan junta militer Yunani pada 1973.

Selama ini, Exarcheia digambarkan sebagai daerah kumuh dan rawan. Hal itu dibantah oleh Giorgos. “Exarcheia merupakan lingkungan yang ramah. Ia selalu menjadi area para intelektual orang-orang berpikiran terbuka, anggota-anggota sayap politik kiri, anarkis, dan unionis,” ungkap Giorgos.

Giorgos menyimpulkan, “Kami berharap akan tiba masa ketika para pengungsi tidak lagi memerlukan solidaritas. Kami ingin hidup di dunia yang tidak seorang pun memerlukan solidaritas. Namun, tentu saja kami akan berpihak kepada mereka sementara ini.”

Notara 26 merupakan sebuah pusat kegiatan solidaritas pengungsi. Lokasinya berada di sebuah bangunan di Exarcheia yang telah diambil alih oleh para anarkis dan aktivis solidaritas pada September 2015.

Para relawan di okupansi itu berasal dari berbagai profesi, antara lain guru, dokter, pekerja sosial, dan aktivis.

Stelius, seorang aktivis sosial yang menjadi relawan di sana, mengungkapkan bahwa tantangan terkini bagi okupansi adalah menyesuaikan bangunan itu agar dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk jangka waktu yang lama.

“Rencana sekarang ini adalah menyediakan tempat tinggal, komunitas, dan sebuah tempat bagi orang-orang untuk mendirikan sebuah pusat, sehingga mereka dapat bekerja demi sesuatu yang mereka inginkan dalam kehidupan mereka,” terang Stelius.

Stelius menyatakan, “Ini adalah tentang kepedulian terhadap individu, tentang orang-orang, bukan menurut jumlah massa. Inilah perbedaan terbesar antara kami dan negara. Kami memperlakukan orang-orang sebagai manusia, bukan jumlahnya,” pungkasnya. (ais)

Keterangan foto: Empat personel band Anfo, sebuah grup musik punk asal Yunani. (Sumber foto: Al Jazeera/Nick Paleologos)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita