Kamis, 29 Juli 2021

Karbon Biru, Harapan Baru Kurangi Emisi

Karbon Biru, Harapan Baru Kurangi Emisi

Jakarta, Swamedium.com — Conservation International (CI) Indonesia menyampaikan hasil kajian stok karbon dan beberapa kegiatan inisiatif blue carbon yang dilakukan di Kaimana, Papua Barat. Blue carbon (karbon biru) menjadi sebuah istilah yang cukup familier dalam upaya pengendalian perubahan iklim terkait pengurangan emisi karbon.

Banner Iklan Swamedium

Sebuah kajian yang dilakukan oleh Alongi dan tim pada 26 Juli 2016 mencatat bahwa padang lamun dan mangrove (bakau) di Indonesia menyimpan sejumlah 3,4 Pg C atau sekitar 17% dari simpanan karbon biru dunia. Ekosistem bakau juga berperan penting dalam mendukung perikanan sebagai sumber mata pencaharian penting bagi sejumlah masyarakat di Indonesia, baik sebagai pendukung sumber daya perikanan yang ada dalam kawasan bakau, seperti kepiting bakau, maupun juga sebagai tempat pemijahan sejumlah spesies ikan. Namun sayangnya, ekosistem pesisir ini kurang diperhatikan dan tingkat kerusakannya relatif cukup tinggi.

Indonesia memiliki 22,6% dari total hutan bakau yang ada di bumi (Miteva, Murray & Pattanayak, 2015); dan Papua Barat merupakan Provinsi dengan hutan bakau terluas, yakni 70% dari seluruh hutan bakau di Indonesia. Di Provinsi ini CI Indonesia bersama mitra melakukan inisiatif karbon biru di Kabupaten Kaimana yang memiliki hutan bakau seluas 50.575,52 ha sejak 2014. Inisiatif ini merupakan upaya mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat serta mengintegrasikan karbon biru dalam kebijakan dan keputusan pengelolaan untuk pendanaan berkelanjutan kawasan konservasi perairan di Kaimana sekaligus mendukung komitmen Pemerintah dalam pengendalian perubahan iklim. CI Indonesia juga melakukan kajian stok karbon di Teluk Arguni, Kaimana, sebagai dasar referensi ilmiah dalam perancangan program.

Kajian stok karbon yang dilakukan oleh CI Indonesia di Teluk Arguni pada tahun 2016 mencatat rata-rata simpanan karbon sebesar 717 Mg C per hektar atau setara dengan 2.631 Mg CO2 per hektar. Jumlah karbon yang disimpan di dalam kawasan ini setara dengan penggunaan 1.120.671 liter bensin, 34,8 truk tangki bensin, dan 1.281.849 kg pembakaran batu bara.

“Temuan ini menegaskan bahwa pentingnya upaya pelestarian kawasan pesisir termasuk mangrove,” kata Victor Nikijuluw, Marine Program Director CI Indonesia pada 26 Juli 2016.

Victor menambahkan bahwa CI Indonesia melakukan inisiatif ini di berbagai tingkat, mulai dari kabupaten hingga nasional. Di Kabupaten Kaimana CI Indonesia mendukung Pemerintah setempat dalam meningkatkan jumlah area konservasi bakau dengan mendukung mata pencaharian masyarakat, misalnya melalui budi daya kepiting bakau yang berkelanjutan. Sedangkan, di tingkat nasional CI Indonesia mendukung inisiatif pengembangan karbon biru bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.

Turut hadir dalam briefing media hari ini, Kasubdit Penataan Kawasan Konservasi Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Andi Rusandi, menyambut positif inisiatif karbon biru yang dilakukan oleh CI Indonesia dan mitra tersebut. Pihaknya berharap agar rancangan program inisiatif karbon biru ini tidak hanya menyasar pengurangan emisi, namun juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kerjasama KKP dengan berbagai pihak, misalnya CI Indonesia akan sangat membantu upaya Pemerintah dalam melestarikan ekosistem bakau maupun mendukung pengelolaan kawasan konservasi perairan di Indonesia.

“Kami harapkan kesuksesan inisiatif blue carbon ini dapat direplikasi dan diadopsi ke kawasan lain di Papua Barat maupun wilayah yang lain di Indonesia, guna nantinya mendukung pelestarian alam sekaligus komitmen Pemerintah dalam pengendalian perubahan iklim,” ujar Andi.

Istilah blue carbon atau karbon biru merujuk pada karbon yang tersimpan, terserap, atau terlepas dari vegetasi dan sedimen ekosistem pesisir, yaitu mangrove atau bakau, padang lamun, dan rawa pasang surut. Di Indonesia CI Indonesia memulai inisiatif ini di Kaimana, Papua Barat, sejak 2014.

Di tingkat global CI Indonesia terlibat dalam Inisiatif Karbon Biru Internasional, sebuah kerjasama yang dilakukan oleh Conservation International (CI), International Union for the Conservation of Nature and Natural Resource (IUCN), dan the Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO (IOC-UNESCO).

Dibentuk pada 2011, Inisiatif Karbon Biru bekerja sama dengan para peneliti, berbagai organisasi swasta, dan badan-badan pemerintah. Program ini adalah program terintegrasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim dengan menjaga dan mengembalikan ekosistem laut dan pesisir secara global. (Zainal/Pamungkas)

Foto: ist

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita