Minggu, 17 Januari 2021

Refleksi Nilai dan Adab Islam Terhadap Nasionalisme Untuk Stabilitas Negara

Refleksi Nilai dan Adab Islam Terhadap Nasionalisme Untuk Stabilitas Negara

Oleh Muhammad F. Azka*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com – Sebagaimana Ibnu Khaldun temukan pada observasi nya atas masyarakat yang beliau jelaskan dalam kitabnya, Al Muqadimah, bahwa peradaban akan bertahan dan kokoh jika tetap berada di atas satu pijakan yang namanya persatuan dan kesatuan.

Kini, hal itu dinamakan dengan nasionalisme, atau juga sebagai semangat kebangsaan. Hal itu dapat wujud dari perpaduan antara kesatuan pemikiran dan kesatuan tujuan. Artinya disini harus ada ilmu, sebab ilmu adalah pengisi fikiran dan darinya lahir sikap yang sesuai orientasi tertentu.
Bernegara dan berbangsa perlu ilmu. Perpecahan atas kesatuan juga persatuan akan membawa dampak mudharat karena melunturkan semangat kebersamaan, lalu menghapus kesatuan kemudian membawa keruntuhan bangsa.

Puluhan tahun negara kita, juga negara lainnya yang memiliki kondisi masyarakat dimayoritasi oleh muslim, mendapat kemakmuran politik sehingga memberi suasana keamanan dan kedamaian. Hal ini akan tetap terjaga apabila muslim melalui tuntunan Islam, menerima kemajemukan. Penerimaan Islam bagi kemajemukan dihasilkan dari keadilan. Islam tidak mengafirmasi sikap rasis dan diskriminasi berdasarkan fanatik kesukuan atau elemen yang mendistorsi kemanusiaan lainnya.

Barisan pejuang kemerdekaan dan pendiri negara ini, khususnya yang muslim, mereka menghayati Islam kemudian darinya melahirkan Pancasila yang memiliki konsep kunci yaitu persatuan dan kesatuan yang diletakkan setelah Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dengan ilmu dan adab, akan diketahui siapa tuan rumah, siapa tamu pada bangsa, juga bagaimana mereka harus meletakkan diri mereka dalam berhubungan. Hal ini bukti bahwa umat Islam, terutama intelektual dan pejuangnya mewarisi secara imbang antara ketegasan dan kesantunan akhlak juga keagungan dakwah serta sunnah Rasulullah.

Kemajemukan bangsa, bahasa, dan budaya sesungguhnya adalah unsur bermutu yang mengisi kualitas dan kekuatan negara. Namun, Islam mengajarkan bahwa semua itu terkait kepada ilmu dan adab. Ilmu adalah pengenalan manusia akan sesuatu dan adab adalah meletakkan sesuatu yang telah diketahui hakikat dan jati dirinya itu pada tempat yang tepat.

Melalui dua konsep ini, nasionalisme dan kemajemukan bisa menyempit atau melampaui batas. Tanpa nafas Islam, nasionalisme bisa menyempit sehingga Arab akan tetap memiliki fanatik kesukuan, atau malah justru menjadi tak ada batas sehingga penjajah tetap leluasa menjajah Indonesia dengan dalih tidak boleh rasialis. Indonesia adalah bangsa kita, Islam adalah agama kita. Keduanya sama-sama kita cintai dan tidak akan kita biarkan orang merampas lalu merusaknya. (ask)

foto: ilustrasi

*Penulis adalah Pengajar di Sekolah Pemikiran Islam

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita