Selasa, 19 Januari 2021

AMSA Kutuk Kekejaman Kemanusiaan terhadap Etnik Rohingnya

AMSA Kutuk Kekejaman Kemanusiaan terhadap Etnik Rohingnya

Jakarta, Swamedium.com — Sapwan Noor, Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim Asean (Asean Muslim Students Association, AMSA), menyatakan sikap atas kekejaman kemanusiaan terhadap etnik Rohingnya di Myanmar pada Selasa (14/2).

Banner Iklan Swamedium

Konflik Kemanusiaan yang terjadi pada etnik Rohingnya di Myanmar masih terus berlanjut. Pihak militer telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat termasuk pemerkosaan, pemukulan, dan pembunuhan, baik terhadap dewasa maupun anak-anak, berdasakan hasil laporan Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa untuk HAM. Hampir 65.000 masyarakat etnik Rohingnya telah mengungsi ke Bangladesh setelah pecah konflik pada Oktober 2016 lalu.

Sapwan Noor mengungkapkan, “Kekejaman dan kebrutalan militer Myanmar terhadap Muslim Rohingnya sudah tidak manusiawi. Mereka tidak hanya membunuh, tetapi juga melakukan pemerkosaan, dan ini sudah tidak bisa ditoleransi. Kejahatan kemanusiaan di Myanmar harus segera dihentikan.”

Konflik di Myanmar bukan hanya permasalahan etnik, namun juga konflik agama, politis, dan ekonomis.

Kebencian terhadap etnik Rohingnya yang mayoritasnya Muslim menunjukkan begitu besarnya Islamofobia di negara tersebut.

Konflik antara etnik Birma Myanmar pemeluk Budha dengan etnik Rohingnya semakin pelik ketika pihak pemerintah tidak menekankan pada rekonsiliasi, namun mendukung gerakan pembantaian dengan mengirimkan militer ke daerah tempat tinggal masyarakat Muslim Rohingnya.

AMSA sangat menyayangkan sikap pemerintah Myanmar yang seakan-akan membiarkan dan nyatanya telah membantu masyarakat Budha Birma untuk melakukan pembantaian terhadap etnik Rohingnya.

“Pemerintah Myanmar harus bertanggung jawab atas konflik yang terjadi, dan segera menarik pasukan militer dari daerah konflik, dan menghentikan pembantaian terhadap etnis rohingnya,” tegas Sapwan.

Bahkan, dalam laporan dari divisi HAM Perserikatan Bangsa atas hasil wawancara terhadap etnik Rohingnya, pihak militer dengan jemawa mengatakan kepada masyarakat Muslim Rohingnya setelah melakukan pembunuhan dan pembantaian, “Apa yang Allah bisa lakukan untuk Anda? Lihat apa yang bisa kami lakukan.” Ungkapan itu tentunya merupakan bentuk intimidasi keagaamaan.

Sapwan mengatakan, “Itu adalah bentuk rasisme dan fasisme yang mereka lakukan. Kebebasan beragama dan kebebasan untuk hidup dijamin oleh hukum internasional. Ujaran kebencian itu tentu melukai perasaan, bukan hanya bagi masyarakat muslim rohingnya, tetapi [juga] seluruh umat Muslim di dunia. Kekejian dan kekejaman apa yang seperti ini.”

AMSA mengajak dunia internasional untuk ikut bersimpati dan peduli terhadap konflik yang terjadi pada Muslim Rohingnya di Myanmar, sehingga konflik ini segera berakhir.

“AMSA mendesak PBB untuk melakukam tindakan represif dan sanksi tegas terhadap pemerintahan Myanmar atas pelanggaran HAM yang terjadi, dan mengajak dunia internasional untuk bersatu membangun kekuatan untuk mendesak pemerintahan Myanmar untuk penghentian tindakan kekejaman kemanusiaan pada etnis Rohingnya,” pungkasnya. (*/Pamungkas)

Keterangan foto: Sapwan Noor, Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim Asean (Asean Muslim Students Association, AMSA). (Sumber foto: AMSA)

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita