Kamis, 29 Juli 2021

Pesan Kebangkitan Islam dan Tanda Kerusakan Demokrasi di Indonesia

Pesan Kebangkitan Islam dan Tanda Kerusakan Demokrasi di Indonesia

Oleh Sarief Saefulloh*

Banner Iklan Swamedium

Jakarta, Swamedium.com — “Kita tidak boleh merusak demokrasi dengan kesombongan dan keserakahan, kita harus menjaga dan menjalankan demokrasi dengan kebijaksanaan, hilangkan kepentingan individu dan kelompok tertentu karena itu awal rusaknya kita sebagai saudara dan hidup sebagai sebuah bangsa dan negara.”

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia. Hadir sebagai raksasa Asia yang memiliki berbagai kekayaaan yang diminati oleh semua negara di dunia.

Sebagai negara berkembang, bangsa ini tidak surut dari polemik kebangsaan. Berbagai momentum dari masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi terus bermunculan. Dinamika inilah yang seharusnya menjadikan Indonesia semakin mapan dan maju sebagai raksasa Asia.

Secara historis, Indonesia terlahir bukan atas pemberian penjajah layaknya Malaysia, Indonesia lahir dari rahim darah para syuhada dan negarawan sejati yang sadar akan perannya untuk membebaskan diri dari imperialisme dan kapitalisme.

Narasi sejarah itulah yang patut diteladani dan dipelajari oleh para generasi [penerus]nya.

Dengan penduduk yang mayoritasnya menganut agama Islam, Indonesia tidak terlepas dari dusta dan pengkhianatan. Banyaknya permasalahan bangsa ini yang disangkutpautkan dengan perilaku para politikus Muslim, seperti korupsi, terorisme, kekuasaan, kemiskinan, pengangguran, keadilan, kesenjangan sosial, dan pendidikan, yang dahulu hingga saat ini tidak kunjung terselesaikan.

Inilah tanggung jawab kita semua; bukan menyudutkan Islam sebagai akar masalah karena terbukti dalam sejarah, Islam hadir sebagai solusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, walaupun dalam realitasnya, Islam selalu dirusak oleh perilaku adu domba pihak tertentu dan umatnya yang lalai.

“Jika perilaku politikus Muslim itu khianat dan rakus, jangan salahkan Islam, karena itu perilakunya sendiri sebagai manusia, bukan Islam sebagai ajaran dan panutan.”

Islam sebagai agama tidak lantas terpisahkan dari negara. Islam mengajarkan umatnya untuk berbangsa dan bernegara, menjaga dan merawat perbedaan, serta memajukan dan menyejahterakan kehidupan masyarakat.

Kehadiran Islam di Indonesia menjadi solusi kemajuan bangsa dan negara. Adapun perilaku para politikus Muslim yang berkhianat terhadap amanat rakyat dan merusak tatanan bernegara bukanlah ajaran Islam, karena Islam mengajarkan kita untuk memaslahatkan umat. Mengemban amanat bukan untuk merusak dan mengkhianatinya.

Islam bukanlah agama yang cinta kekerasaan seperti yang diisukan. Islam adalah agama perdamaian yang dahulu hingga saat ini tidak pernah berubah ajarannya sebagai panutan kehidupan manusia.

Seiring dengan perkembangan ideologi dunia, Islam di Indonesia mengalami berbagai rintangan yang cukup berat dalam dinamika berdemokrasi. Kita mengetahui bahwa demokrasi secara hakikat bukanlah kekuasaan semata, yang pekerjaannya hanya meraih dan meruntuhkan kekuasaan. Sungguh kerdil dan tidak bijak jika masih ada yang berperilaku demikian.

Akan tetapi, realitasnya, kita menghadapi hal tersebut tatkala pemilihan umum (pemilu), ketika banyak kelompok berbondong-bondong saling menyerang, tuduh-menuduh dengan isu-isu buruk karena berdalih atas nama kebenaran dan demokrasi.

Itulah potret modernisasi demokrasi yang menghalalkan segala cara demi kekuasaan, yang merusak moral dan hukum yang berlaku, serta meretakkan persatuan dan kesatuan bangsa. Secara etika dan estetika, hal tersebut bukanlah pendidikan politik yang baik dan teladan bagi masyarakat.

Islam dan demokrasi di Indonesia telah menjadi perbincangan pada semua kalangan masyarakat. Banyaknya permasalahan agama dan demokrasi yang muncul bersamaan menjadikan masyarakat memahami sesungguhnya kerusakan demokrasi di Indonesia bukanlah karena agama, tetapi diakibatkan oleh kerakusan, serta kesombongan individu maupun kelompok tertentu yang melupakan tata krama, dan sopan santun berdemokrasi.

Islam bangkit menyatukan kekuatan dengan nurani bukan emosi. Islam bersatu dalam shaf shalat bukan karena kiai, tetapi karena iman yang tinggi. Suara jutaan umat bukanlah suara kebencian dan pertentangan, tetapi suara perlawanan menuntut keadilan. Berdiri dan bergerak bersama untuk menjaga bangsa dan negara dari kebinasaan dan ketidakpercayaan umatnya.

“Kita tidak boleh merusak demokrasi dengan kesombongan dan keserakahan. Kita harus menjaga dan menjalankan demokrasi dengan kebijaksanaan, hilangkan kepentingan individu dan kelompok tertentu karena itu awal rusaknya kita sebagai saudara dan hidup sebagai sebuah bangsa dan negara.”

Dalam UUD 1945 yang dikenal sebagai konstitusi negara, hukum tertinggi negara itu menegaskan bahwa setiap warga negara dijamin haknya oleh negara, baik secara ekonomi, politik, sosial, maupun budaya, tanpa melihat golongan, ras, budaya, atau agama tertentu.

Dengan demikian, setiap warga negara memiliki hak berdemokrasi (mencalonkan diri maupun memilih pemimpin) sesuai agamanya, budayanya, maupun rasnya.

Aku bangga sebagai muslim, sebagai warga Indonesia; mencintai pilar kebangsaan sebagai sebuah nilai yang manusiawi dan sebagai pedoman negarawan sejati.

*Penulis merupakan Wakil Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim Asean (Asean Muslim Students Association, AMSA)

Red.: Pamungkas

Banner Iklan Swamedium

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita