Kamis, 01 Oktober 2020

Pesan Kebangkitan Islam dan Tanda Kerusakan Demokrasi di Indonesia

Pesan Kebangkitan Islam dan Tanda Kerusakan Demokrasi di Indonesia

Oleh Sarief Saefulloh*

Jakarta, Swamedium.com — “Kita tidak boleh merusak demokrasi dengan kesombongan dan keserakahan, kita harus menjaga dan menjalankan demokrasi dengan kebijaksanaan, hilangkan kepentingan individu dan kelompok tertentu karena itu awal rusaknya kita sebagai saudara dan hidup sebagai sebuah bangsa dan negara.”

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia. Hadir sebagai raksasa Asia yang memiliki berbagai kekayaaan yang diminati oleh semua negara di dunia.

Sebagai negara berkembang, bangsa ini tidak surut dari polemik kebangsaan. Berbagai momentum dari masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi terus bermunculan. Dinamika inilah yang seharusnya menjadikan Indonesia semakin mapan dan maju sebagai raksasa Asia.

Secara historis, Indonesia terlahir bukan atas pemberian penjajah layaknya Malaysia, Indonesia lahir dari rahim darah para syuhada dan negarawan sejati yang sadar akan perannya untuk membebaskan diri dari imperialisme dan kapitalisme.

Narasi sejarah itulah yang patut diteladani dan dipelajari oleh para generasi [penerus]nya.

Dengan penduduk yang mayoritasnya menganut agama Islam, Indonesia tidak terlepas dari dusta dan pengkhianatan. Banyaknya permasalahan bangsa ini yang disangkutpautkan dengan perilaku para politikus Muslim, seperti korupsi, terorisme, kekuasaan, kemiskinan, pengangguran, keadilan, kesenjangan sosial, dan pendidikan, yang dahulu hingga saat ini tidak kunjung terselesaikan.

Inilah tanggung jawab kita semua; bukan menyudutkan Islam sebagai akar masalah karena terbukti dalam sejarah, Islam hadir sebagai solusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, walaupun dalam realitasnya, Islam selalu dirusak oleh perilaku adu domba pihak tertentu dan umatnya yang lalai.

“Jika perilaku politikus Muslim itu khianat dan rakus, jangan salahkan Islam, karena itu perilakunya sendiri sebagai manusia, bukan Islam sebagai ajaran dan panutan.”

Pages: 1 2 3

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.