Wednesday, 26 February 2020

Akibat Macet, Warga Jakarta Rugi Rp 68,2 Triliun Per Tahun

Jakarta, Swamedium.com — Kemacetan lalu lintas Kota Jakarta yang semakin parah, ternyata tidak hanya berdampak pada pencemaran lingkungan, tetapi juga menimbulkan potensi kerugian di bidang kesehatan dan ekonomi bagi warga Jakarta.

Tak tanggung-tanggung, potensi kerugian yang dialami warga Jakarta mencapai Rp 68,2 triliun per tahun. Angka kerugian ini hampir menyamai nilai APBD DKI 2017 sebesar Rp 70,191 triliun, atau sekitar 97,08 persen dari APBD DKI 2017.

Potensi kerugian akibat kemacetan lalu lintas tersebut berasal kerugian dari sektor kesehatan senilai Rp 38,5 triliun dan dari sektor penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 29,7 triliun.

Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Syafrudin mengatakan kemacetan lalu lintas yang makin parah di Jakarta membawa dampak kerugian besar bagi warga Jakarta.

“Pertama, warga Jakarta jadi boros dalam penggunaan BBM. Sementara perjalanan yang ditempuh jaraknya pendek. Kedua, rugi akan waktu, jadi mengalami ketidakpastian dalam pekerjaan. Biasanya kalau tidak macet, warga bisa kerja 100 persen, tapi karena macet kerjanya jadi 30 persen,” kata Ahmad.

Ketiga, lanjutnya, kemacetan lalu lintas juga mengakibatkan pencemaran lingkungan yang semakin tinggi. Semakin banyak kendaraan pribadi seperti motor dan mobil terjebak macet, maka emisi gas buang kendaraan membuat kualitas udara di Jakarta semakin memburuk.

Kondisi kualitas udara yang buruk mengakibatkan tubuh warga Jakarta turut tercemar. Berdasarkan riset yang ada pada tahun 2012, ditemukan sebanyak 57 persen masyarakat terkena sakit akibat pencemaran udara. Seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Asma, Pneunomia hingga jantung koroner.

“Pencemaran udara semakin tinggi. Artinya, orang menempuh perjalanan 3 kilometer ditempuh dalam waktu 30 menit, padahal kalau tak macet hanya 3-4 menit. Ini mengakibat orang yang mengendarai motor atau mobil dan pejalan kaki tercemar akibat menghirup udara yang sudah tercemar emisi gas buang,” paparnya.

Untuk mengobati penyakit akibat pencemaran udara, warga Jakarta harus membayar biaya kesehatan hingga Rp38,5 triliun per tahun.

Begitu juga dengan penggunaan BBM. Jika Jakarta tak macet, maka penggunaan BBM di Ibu Kota hanya antara 2,4 juta kiloliter sampai 3,5 juta kiloliter per tahun. Sedangkan dengan kondisi macet, penggunaan BBM bisa mencapai 8 juta kiloliter.

“Artinya, ada kerugian akibat penggunaan BBM sebanyak 4,5 juta kiloliter terbuang percuma akibat macet. Kalau dikalikan dengan harga BBM Rp 6.600 per liter, maka kerugian penggunaan BBM mencapai Rp 29,7 triliun per tahun,” jelasnya.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI, Gamal Sinurat mengakui kualitas udara di Jakarta sudah berada di bawah ambang batas.

“Memang dari alat pantau udara yang kita letakkan di beberapa titik, terlihat kualitas udara di Jakarta sudah dibawah ambang batas. Ini akibat kemacetan lalu lintas yang tak pernah hilang di Jakarta,” ujar Gamal.

Untuk peningkatan kualitas udara di Jakarta, Gamal menyatakan pihaknya melakukan pemantauan terhadap emisi gas buang yang dihasilkan benda tak bergerak. Yaitu cerobong asap di pabrik dan industri.

“Secara rutin melakukan pemeriksaan cerobong pabrik dan industri. Kalau melanggar tidak bersih maka kita berikan sanksi tegas,” ungkapnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.