Senin, 18 Oktober 2021

Sabeni, Legenda Jago Silat, Duel Lawan Penjajah Hingga Jadi Nama Beken Ayah si Doel

Sabeni, Legenda Jago Silat, Duel Lawan Penjajah Hingga Jadi Nama Beken Ayah si Doel

Jakarta, Swamedium.com — Jika menyebut nama Sabeni, bagi sebagian orang zaman sekarang, yang diingat adalah nama sebuah jalan di dekat Tanah Abang, Jakarta. Ada juga mengenalnya dengan nama peran almarhum Benyamin S, dalam serial televisi si Doel Anak Sekolahan.

Banner Iklan Swamedium

Tapi tidak banyak yang tahu, Sabeni adalah nama yang sangat melegenda di tanah Betawi, terutama mereka yang menggeluti pencak silat. Kelabang Nyebrang adalah jurus silat andalan dari Sabeni bin Haji Chanam, yang lahir tahun 1860.

Cerita kehebatan Sabeni berawal ketika Jago Betawi yang disegani di Tenabang (nama Tanah Abang dulu kala) mendirikan Aliran Silat Sabeni. Kompeni Belanda yang berkuasa waktu itu, tidak senang dengan aktifitasnya yang mengajarkan anak-anak muda Tenabang ilmu silat.

Dikutip dari silatindonesia.com, Muhammad Ali bin Sabeni salah seorang anak Sabeni menyebutkan, pernah waktu itu Kapten Danu yang memimpin Hoofdbureau van Politie (Kepolisian Hindia Belanda) memanggil petinju dari negara asalnya dan seorang jago kungfu dari Cina untuk menantang Sabeni.

Dalam duel di Princen Park (sekarang Taman Lokasari, Jakarta Barat), disaksikan ratusan warga Betawi dan Belanda, Sabeni berhasil mengalahkan kedua lawannya itu.

Lalu ketika di jaman penjajahan Jepang, pernah juga Sabeni melawan jagoan Jepang. Seperti yang ditulis Alwi Shahab di alwishahab.wordpress.com tahun 2007, Sabeni pernah diadu dengan serdadu Kempetai (polisi rahasia Jepang) yang jago karate. Saat itu, Sabeni dalam kondisi tahanan Kempetai.

“Kalau Sabeni menang, bebas dan boleh pulang,” kata sang komandan, tulis Bang Thabrani dalam buku Ba-be. Duel berlangsung di Markas Kempetai di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Sabeni berhasil berkelit dari serangan-serangan ahli karate itu. Bahkan, ia kemudian berhasil merobohkan prajurit Jepang itu dengan ilmu pukulan kelabang nyebrang. Sang komandan yang kecewa karena kekalahan anak buahnya, kemudian menghadapkan seorang jago sumo untuk menundukkan Sabeni. Sabeni siap menghadapinya. Jago Sumo memasang kuda-kuda, kedua kakinya maju kedepan, berdiri ngangkang. Tangan ditaro di atas paha segede paha kuda. Kemudian keluar dari mulutnya suara, ‘’Eeek …!’’ Sambil membentangkan tangannya.

“Menghadapi lawan dalam keadaan demikian, Sabeni loncat kodok, ke atas dengkul musuh yang lagi ngeden. Dengkul lawan dianggap talenan, dipakai buat salto ke atas. Untuk kemudian menyambar ubun-ubun si jago sumo, yang langsung terjengkang, ngegeloso, kagak bisa berdiri lagi karena keberatan badan dan akibat pukulan jago silat Tenabang itu,” tulis Alwi.

Dua pertarungan itu kemudian diabadikan dalam film Berkas Tempo Doeloe yang diputar TVRI pada 1985.

Sabeni meninggal dunia dalam usia 85 tahun pada tanggal 15 Agustus 1945 atau dua hari sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Dia kemudian dimakamkan di Gang Kubur, Tanah Abang.

Jalan Kuburan Lama, Tanah Abang, tempat makam Sabeni, oleh pemerintah DKI diganti menjadi Jalan Sabeni. Sedangkan makamnya kemudian dipindahkan dari Gang Kubur ke Karet Bivak berdekatan dengan makam Husni Thamrin.

Begitu melegendanya nama Sabeni, oleh almarhum Benyamin Suaeb nama ini dipakai dalam perannya sebagai ayahnya si Doel dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahaan. Pemakaian nama Sabeni dalam sinetron itu sudah atas izinnya Babe Ali.

“Saya izinkan karena nama Sabeni kan banyak,” kata Babe Ali waktu itu.

Sekarang seni silat Sabeni diteruskan oleh cucunya, H. Zakaria. Ditangan Zakaria, ilmu silat Betawi ini kemudian dikembangkannya hingga ke Eropa. Tentunya kita berharap pencak silat Betawi ini bisa terus berkembang di tanah Betawi. (dr/dari berbagai sumber)

Foto: ilustrasi jurus silat Kelabang Nyebrang, jurus andalan Sabeni. Foto: istimewa

Banner Iklan Swamedium

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Fakta Berita